Pasar Obligasi: Rebound Tak Terganggu Inflasi

Bisnis.com, JAKARTA— Tekanan inflasi Juli yang menembus 3,29% ternyata tak menggoyahkan rebound di pasar obligasi yang telah terjadi sejak Rabu (31/7/2013).Koreksi pun hanya berlangsung sesaat setelah data inflasi Juli
Maftuh Ihsan | 02 Agustus 2013 10:05 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Tekanan inflasi Juli yang menembus 3,29% ternyata tak menggoyahkan rebound di pasar obligasi yang telah terjadi sejak Rabu (31/7/2013).Koreksi pun hanya berlangsung sesaat setelah data inflasi Juli diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (1/8/2013) siang.

Data PT Penilai Harga Efek Indonesia (Indonesia Bond Pricing Agency/IBPA) memperlihatkan yield (imbal hasil) empat seri surat utang negara (SUN) seri acuan di pasar sekunder justru bergerak turun pada penutupan perdagangan, Kamis (1/8/2013). Penurunan yield tersebut menandakan kenaikan dari sisi harga karena pergerakan keduanya selalu berlawanan.

Yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun FR0063 ditutup melemah 17 basis poin dari 7,75% pada hari sebelumnya menjadi 7,58%. Harga surat utang tersebut naik dari 85,55 menjadi 86,65. Adapun, yield SUN bertenor pendek 5 tahun FR0066 turun 16 basis poin menjadi 7,25% dibandingkan dengan capaian pada hari sebelumnya 7,41%, dengan harga yang menguat dari 91,40 menjadi 91,98.

Sementara itu, yield SUN tenor 20 tahun FR0065 juga terkoreksi 15 basis poin dari 8,24% menjadi 8,09%, dengan kenaikan harga dari 84,30 menjadi 85,61. Head of Fixed Income PT Anugerah Securindo Indah Ram dhan Ario Maruto mengatakan investor tidak perlu panik dalam merespons data inflasi Juli karena tekanan tersebut merupakan efek akumulasi dari kenaikan BBM, Lebaran, tahun ajaran baru, dan jeleknya pasokan serta distribusi pangan.

“Kecuali nanti memang habis liburan Lebaran market bergejolak lagi,” katanya kepada Bisnis, Kamis (1/8/2013). 

ANOMALI

Budi Susanto, Head of Debt Capital Market PT Danareksa Sekuritas, menuturkan jika dilihat sepintas kondisi pasar sedang anomali karena biasanya setelah pengumuman laju inflasi tinggi, pasar akan terkoreksi akibat kekhawatiran Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.

“Memang sepintas seperti anomali. Namun, sebenarnya kondisi ini bisa diartikan sesuatu yang ditunggu-tunggu, yakni angka inflasi, kepastiannya sudah ada.

Pasar sudah siap inflasi di 8%.”Angka inflasi tahunan tersebut, lanjutnya, tidak terlalu jauh meleset dari perkiraan pasar, atau diartikan tidak naik terlalu tinggi. Dengan adanya kepastian tersebut, investor telah mendapatkan variabel penting untuk mempermudah dalam menentukan portofolionya.

Dia menjelaskan seri obligasi yang memimpin kenaikan pasar adalah surat utang yang baru diterbitkan pemerintah pada lelang, Selasa (30/7/2013), yang pasokannya masih terbatas, serta seri benchmark 10 tahun.

“Saat ini investor sudah lebih mudah menyusun portofolionya walaupun masih ada satu variabel lagi yang ditunggu yakni suku bunga acuan,” katanya.

Herdi Ranu Wibowo, Head of Debt Capital Market PT BCA Sekuritas, menuturkan laju inflasi tahunan 8,61% tersebut masih berada dalam kisaran teratas eskpektasi investor yakni di level 9% hingga akhir tahun ini.

Dia menuturkan kemungkinan investor masih akan meminta imbal hasil yang tinggi dalam\ beberapa lelang SUN ke depan karena adanya kekhawatiran Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga acuan.

“Mungkin BI akan kembali menaikkan suku bunga sekitar 25 basis poin,” tutur Budi. Analis obligasi PT Nusantara Capital Securities I Made Adi Saputra mengatakan kunci pergerakan pasar SUN ke depan terletak pada kebijakan BI Rate. “Kalau BI Rate nggak berubah ya nggak banyak perubahan di market, sementara tekanan. (ltc)

 

Sumber : Bisnis Indonesia (2/8/2013)

Tag : Obligasi, sun, Inflasi, pasar obligasi
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top