Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Menguap Rp195 Tiliun Imbas Demo Jakarta, Simak Saham Penekannya

IHSG anjlok 1,53% pada Jumat (29/8) akibat demo di Jakarta, sehingga kapitalisasi menguap Rp195 triliun. Saham BBCA menjadi penekan terbesar.
Layar menampilkan grafik  pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (21/8/2025). Bisnis/Abdurachman
Layar menampilkan grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (21/8/2025). Bisnis/Abdurachman
Ringkasan Berita
  • Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turun Rp195 triliun akibat aksi jual investor menyusul demonstrasi di Jakarta, dengan IHSG anjlok 1,53% ke level 7.830,49.
  • Saham BCA, BBRI, BREN, TLKM, dan TPIA menjadi penekan utama IHSG, sementara investor asing mencatatkan jual bersih senilai Rp1,12 triliun.
  • Meskipun IHSG melemah akibat kondisi sosial-politik, fundamental pasar modal Indonesia dinilai masih kuat oleh otoritas bursa, dengan potensi tren penurunan jangka pendek.

* Ringkasan ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA – Kapitalisasi Bursa Efek Indonesia menguap Rp195 triliun imbas eskalasi demonstrasi Jakarta pada Jumat (29/8/2025) disikapi investor dengan melakukan aksi jual.

Pada perdagangan kemarin, Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,53% ke level 7.830,49, sehingga kapitalisasi pasar modal Indonesia menjadi Rp14.182 triliun atau turun Rp195 triliun dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat, saham BCA (BBCA) menjadi penekan terbesar IHSG setelah melemah 3% atau mengurangi nilai IHSG 17,84 poin, disusul saham BBRI (-2,17%), BREN (-2,96%), TLKM (-1,57%), dan TPIA (-2,37%).

Sejumlah saham lain juga menjadi penekan IHSG, antara lain BRPT (-3,1%), BMRI (-0,84%), EMTK (-6,54%), ASII (-1,35%), hingga BBNI (-1,79%).

Dari nilai transaksi ini, investor asing melakukan beli senilai Rp6,3 triliun dan jual Rp7,42 triliun atau terjadi jual bersih senilai Rp1,12 triliun. Membalikkan tren pekan ini yang sudah kembali melakukan net buy.

Kondisi ini membuat net sell asing dari pasar modal Indonesia sepanjang tahun berjalan menjadi Rp50,94 triliun.

Sebanyak 630 saham mengalami penurunan harga, dari jumlah ini sebanyak 406 di antaranya anjlok lebih dari 2%. Selanjutnya sebanyak 136 saham naik dan 190 saham tidak bergerak.

Adapun sepanjang perdagangan pekan ini, 25-29 Agustus 2025, IHSG melemah 0,36% dari level penutupan 7.858,851 pada pekan lalu. Adapun kapitalisasi pasar BEI naik 0,36% menjadi Rp14.182 triliun dari Rp14.131 triliun pada sepekan sebelumnya.

Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian sepanjang pekan ini meningkat 40,69% ke level Rp25,22 triliun dari Rp17,92 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian Bursa pekan ini naik 19,56% menjadi 47,19 miliar lembar saham dari 39,47 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.

Adapun rata-rata frekuensi transaksi harian selama pekan ini mengalami peningkatan, sebesar 8,80% menjadi 2,31 juta kali transaksi dari 2,12 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Meskipun melemah akibat demo Jakarta, IHSG sempat mencatatkan rekor penutupan tertingginya atau all time high (ATH) pada pekan ini. Pada Kamis (28/8), IHSG ditutup di level 7.952,09, melampaui rekor sebelumnya di level 7.943,82 pada Rabu (20/8).

Di tengah gejolak pasar saham, Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa fundamental pasar modal Indonesia masih solid. 

“Kalau dari otoritas bursa, kami melihat fundamental pasar saham kita masih kuat. Kalau ada koreksi teknikal itu wajar,” ujarnya di Jakarta, Jumat (29/8/2025)

Dia juga menyampaikan bahwa BEI tidak berencana melakukan penyesuaian aturan terkait dengan dinamika pasar ini. Menurutnya, seluruh aspek pengawasan dan operasional bursa masih berjalan sesuai dengan jalurnya. 

Terpenting, kata Jeffrey, investor tetap bersikap rasional dalam mengambil keputusan investasi sehingga gejolak jangka pendek tidak menimbulkan kepanikan.

Dalam kesempatan terpisah, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyebutkan bahwa pelemahan indeks komposit tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial-politik Indonesia saat ini. 

“Pelemahan ini pastinya dipicu oleh kondisi sosial-politik yang kurang kondusif,” ujar Harry saat dihubungi Bisnis.

Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, juga berpandangan serupa. Menurutnya, pelemahan indeks komposit berkaitan dengan adanya eskalasi aksi demonstrasi khususnya yang terjadi hari ini. 

Nafan juga menyampaikan bahwa kondisi politik dan keamanan domestik memiliki pengaruh signifikan terhadap pelemahan IHSG. Oleh karena itu, dia melihat adanya potensi tren penurunan indeks komposit dalam jangka pendek. 

Di sisi lain, data historis juga menunjukkan kinerja IHSG pada bulan September selama lima tahun terakhir memang cenderung bearish. Adapun, untuk periode Oktober hingga Desember umumnya mencatatkan tren bullish.

“Kondisi politik dan keamanan domestik berpengaruh besar terhadap pelemahan IHSG hari ini. Bila kondisi IHSG konsisten diperdagangkan di bawah 7.750, maka potensi bearish consolidation phase terbuka lebar,” ucap Nafan kepada Bisnis

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro