Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Membaca Arah IHSG saat Situasi Sosial-Politik RI Gonjang-ganjing

IHSG terkoreksi 1,53% ke 7.830,49 akibat gejolak sosial-politik RI. Meski tren kuartal IV biasanya bullish, ketidakstabilan politik bisa menghambat.
Pegawai mengamati data saham di salah satu sekuritas di Jakarta. Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai mengamati data saham di salah satu sekuritas di Jakarta. Bisnis/Himawan L Nugraha
Ringkasan Berita
  • IHSG terkoreksi 1,53% ke 7.830,49 akibat situasi sosial-politik yang memanas, memutus momentum penguatan sebelumnya.
  • Gejolak sosial-politik dapat mengganggu tren bullish IHSG di kuartal IV, meskipun kondisi pasar mendukung dengan pelonggaran suku bunga.
  • Penurunan yield SBN dan SRBI membuat saham lebih atraktif, tetapi stabilitas politik diperlukan untuk mendukung rebound IHSG.

* Ringkasan ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat (28/8/2025) ditutup terkoreksi sebesar 1,53% ke 7.830,49. Hasil pasar ini memutus momentum bagus IHSG dapat tembus ke level psikologis di 8.000, kala dua hari sebelumnya menguat beruntun.

Data historis mencatat, dalam 5 tahun terakhir IHSG pada periode September memang cenderung bearish, tetapi memasuki kuartal IV umumnya menunjukkan tren bullish.

Penggiat pasar modal Indonesia, Reydi Octa mengatakan tren repetisi tersebut untuk tahun ini bisa terganjal oleh memanasnya situasi sosial-politik di dalam negeri. Sebagaimana diketahui, gejolak demonstrasi semakin panas sejak awal pekan ini, Senin 25 Agustus 2025.

"Tren seasonal bullish IHSG di kuartal IV bisa terganggu apabila gejolak sosial-politik berlarut. Karena investor tak hanya melihat data fundamental dan ekonomi tapi juga membaca stabilitas," ujarnya, Jumat (28/8/2025).

Menilik perkembangan IHSG dalam sepekan ini, indeks menutup hari pertama dengan penguatan 0,87% ke 7.926,91. Pada penutupan hari berikutnya IHSG terkoreksi 0,27% kembali ke level 7.905,76.

Sinyal IHSG bakal menyentuh level psikologis 8.000 mulai ada harapan, saat di hari ketiga pasar ditutup menguat 0,38% ke 7.936, dan berlanjut di hari keempat kala pasar ditutup menguat 0,20% ke 7.952.

Dalam dua kali penguatan itu, menariknya dana asing justru melayang. Pada penutupan Rabu 27/8/2025, net sell asing mencapai Rp212,58 miliar, sedangkan penutupan hari Kamis 28/8/2025 net sell asing membesar dengan nilai Rp278,76 miliar.

"Jika demonstrasi makin liar tanpa respons konkret, capital inflow bisa tertahan dan indeks masih akan rawan koreksi," tegas Reydi.

Alih-alih membuat kondisi pasar menghijau, sejumlah respons pejabat di Indonesia justru membuat situasi tak tenang. Puncaknya ketika pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan (21) meninggal dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob dalam kerusuhan demo di kawasan Jakarta Pusat pada Kamis (28/8/2025) malam. Kejadian ini menyulut ribuan ojol melakukan demonstrasi besar-besaran di beberapa kota di Indonesia hari ini.

Reydi menilai pemerintah harus segera turun tangan untuk meredam aksi demo, dan perlu menggunakan komunikasi politik yang tegas dan kepastian arah kebijakan. "Agar menjelang akhir tahun bursa saham bisa rebound," tegasnya.

Kendati begitu, Reydi mengatakan bahwa jebloknya IHSG yang disebabkan situasi sosial-politik saat ini sifatnya hanya jangka pendek. Apalagi, situasi pasar saat ini mendukung untuk mendorong laju IHSG.

Pertama, Bank Indonesia memberi sinyal pelonggaran BI Rate kembali usai Agustus ini sudah memangkas BI Rate menjadi 5%. Kedua, The Fed juga diperkirakan akan memangkas suku bunga pada September nanti. 

Di sisi lain, penurunan yield SBN 10 tahun di kisaran 6,3% dan SRBI sekitar 5,05% membuat pasar saham relatif lebih atraktif bagi investor. Momentum ini dapat mendukung valuasi IHSG, terutama saham-saham bank jumbo yang sensitif terhadap kebijakan moneter dan memiliki bobot besar di indeks. 

"Momentum suku bunga turun akan lebih dominan [pengaruhnya] ke depannya. Saya melihat koreksi yang terjadi apabila indeks bisa lebih turun lebih dalam, akan menjadi peluang yang lebih baik untuk potensi rebound ke depannya," pungkasnya.

Sebelumnya, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer menilai pasar saham saat ini diuntungkan ketika suku bunga rendah. Situasi ini akan membuat investor cenderung melirik saham dibanding instrumen investasi lainnya.

"Kalau kita melihat beberapa instrumen imbal hasilnya turun, seperti yield SBN 10 tahun sekarang di sekitar 6,3%, SRBI levelnya di sekitar 5,05%. Ini menyebabkan instrumen saham menjadi instrumen yang sangat menarik karena imbal hasil dari sisi yield dividennya di level hampir 6%," ungkap Adrian.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro