Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan Migas Raksasa ExxonMobil memproyeksikan permintaan minyak bumi akan stagnan di level 100 juta barel dan pasokan akan turun drastis hingga 2050.
Director Economics & Energy ExxonMobil Corp. Chris Birdsall mengatakan pihaknya memperkirakan permintaan minyak global akan mencapai titik stagnan setelah 2030, tetapi tetap berada di atas 100 juta barel per hari hingga 2050.
Permintaan minyak bumi untuk bensin kendaraan penumpang diproyeksikan menurun pada 2050, namun sebagian besar minyak dunia tetap digunakan untuk sektor industri seperti manufaktur, produksi kimia, serta transportasi berat seperti pengiriman, truk, dan penerbangan.
“Sektor-sektor ini dinilai penting bagi kehidupan modern dan mendukung pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang,” kata Chris dikutip dari ExxonMobil’s Energy Outlook: A View to 2050, Selasa (25/2/2025).
Dalam laporan proyeksi globalnya, ExxonMobil menyatakan bahwa estimasi ini merupakan pandangan terbaru mengenai permintaan dan pasokan energi serta produk hingga tahun 2050, dengan asumsi adanya transisi energi yang agresif namun tetap praktis.
Proyeksi ini menjadi dasar perencanaan bisnis perusahaan dan didasarkan pada pemahaman mendalam mengenai fundamental pasar jangka panjang, termasuk tren dalam pengembangan ekonomi, kemajuan teknologi, serta perilaku konsumen. Pandangan ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi dampak potensial dari kebijakan pemerintah terkait iklim.
Baca Juga
ExxonMobil menyebutkan bahwa proyeksinya bukan merupakan dukungan terhadap kebijakan tertentu. Perusahaan mempertimbangkan berbagai skenario, termasuk yang dinilai tidak mungkin terjadi, untuk membantu strategi perencanaan.
Proyeksi tersebut juga menyoroti adanya ketidakpastian dalam kebijakan pemerintah yang belum dibuat, kemajuan teknologi yang dapat memengaruhi biaya dan ketersediaan energi, serta kesiapan bisnis dan konsumen untuk membayar lebih mahal guna mengurangi emisi lebih besar dan menciptakan pasar yang mendorong percepatan menuju nol emisi.
Selain proyeksi permintaan minyak bumi, ExxonMobil juga meramalkan produksi minyak bumi mengalami penurunan alami sekitar 15% per tahun, hampir dua kali lipat dari estimasi IEA sebesar 8%.
Merosotnya produksi ini disebabkan oleh perubahan bauran energi global yang bergeser ke sumber minyak bumi dan gas alam nonkonvensional, seperti formasi serpih dan batuan padat, yang tingkat produksinya menurun lebih cepat dibandingkan sumber konvensional.
ExxonMobil menyebutkan bahwa tanpa adanya investasi baru, pasokan minyak bumi global dapat turun lebih dari 15 juta barel per hari hanya dalam satu tahun. Dengan tingkat penurunan tersebut, pada tahun 2030 pasokan minyak dapat berkurang dari 100 juta barel per hari menjadi kurang dari 30 juta barel per hari.
“Hal ini menciptakan kesenjangan hingga 70 juta barel per hari dibandingkan dengan permintaan global yang masih tinggi,” jelas Chris.