Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Komoditas Rabu (24/4): Emas dan Batu Bara Variatif, CPO Menguat

Simak harga emas, batu bara, dan CPO pada Rabu (24/4/2024) jelang rilis data perekonomian AS.
Tumpukan emas batangan 1 kilogram di YLG Bullion International Co. Bangkok, Thailand pada Jumat (22/12/2023). - Bloomberg/Chalinee Thirasupa
Tumpukan emas batangan 1 kilogram di YLG Bullion International Co. Bangkok, Thailand pada Jumat (22/12/2023). - Bloomberg/Chalinee Thirasupa

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas dan harga batu bara terpantau variatif di kala pasar menanti data perekonomian Amerika Serikat (AS). Sementara harga crude palm oil (CPO) masih menguat. 

Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Selasa (23/4/2024), harga batu bara kontrak April 2024 di ICE Newcastle ditutup menguat 0,19% pada level US$129,75 per metrik ton Batu bara kontrak Mei 2024 melemah -0,91% ke US$136,75 per metrik ton.

Mengutip Energyworld, kementerian batu bara memperkirakan persediaan akhir sekitar 38-40 juta ton di pembangkit listrik berbasis batu bara dalam negeri pada 30 Juni 2024, ketika permintaan musim panas mulai mereda dari tingkat tertinggi dan gangguan logistik pada musim hujan yang meningkat. Adapun, target ini lebih tinggi 13-19% dibandingkan stok pada tahun lalu. 

Seorang pejabat senior pemerintah kemudian mengatakan ini diharapkan cukup untuk memulai musim hujan, ketika produksi dan evakuasi batu bara biasanya mengalami perlambatan. 

Selama musim hujan, stok bisa berkurang karena produksi dan transportasi batu bara terhambat. Saat ini, stok di pembangkit listrik batu bara domestik mencapai sekitar 46,5 juta ton.

Tahun fiskal ini dimulai dengan stok yang lebih tinggi, yaitu 47,3 juta ton, jauh melebihi angka tahun sebelumnya yang sebanyak 34,5 juta ton. Stok bahan bakar yang lebih tinggi memberikan fleksibilitas dalam meningkatkan produksi listrik saat permintaan naik, mengurangi kebutuhan transportasi kereta api yang mendesak

Ilustrasi proses pengangkutan batu bara
Ilustrasi proses pengangkutan batu bara

Harga Emas

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot menguat 0,08% ke level US$2.323,98 per troy ounce pada pukul 06.49 WIB. Kemudian, harga emas Comex kontrak Juni 2024 melemah -0,24% ke US$2.336,50 per troy ounce pada pukul 06.39 WIB.

Mengutip Reuters, harga emas telah stabil pada Selasa (23/4) setelah mencapai level terendah dalam lebih dari dua minggu, di kala meredanya kekhawatiran meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

CEO broker Eropa Mind Money Julia Khandoshko mengatakan bahwa emas yang secara tradisional dipandang sebagai tempat berlindung dari risiko, kini telah melemah. 

Lanjutnya, pasar juga memantau sinyal dari AS dengan cermat dengan data inflasi dan pernyataan dari Federal Reserve menunjukan bahwa suku bunga mungkin tidak akan diturunkan pada Juni 2024. 

Pasar nantinya akan mengawasi data produk domestik bruto (PDB) AS pada Kamis waktu setempat (25/4) dan laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) pada Jumat (26/4) untuk mendapatkan petunjuk terkait perekonomian dan kapan pemangkasan akan dimulai. Dia juga menambahkan bahwa emas yang jenuh beli juga mengalami koreksi teknis. 

“Ada banyak investor yang melewatkan reli besar emas dan akan mencari cara untuk mengambil penurunan seperti ini,” jelas analis pasar di City Index, Fawad Razaqzada.

Ilustrasi produksi emas
Ilustrasi produksi emas

Harga CPO

Harga komoditas minyak kelapa sawit atau CPO berjangka kontrak Juli 2024 pada perdagangan Selasa (23/4) telah menguat 25 poin ke 3.969 ringgit per ton di Bursa derivatif Malaysia. Kemudian, kontrak Juni 2024 juga ditutup menguat 21 poin menjadi 4.017 ringgit per ton.

Mengutip Reuters, harga minyak sawit berjangka Malaysia telah melanjutkan kenaikan pada Selasa (23/4). Data ekspor yang kuat dan harga minyak saingannya yang lebih kuat memberikan dukungan pada harga. 

Manajer perdagangan di Kantilal Laxmichand & Co, Mitesh Saiya, mengatakan bahwa cuaca buruk di Malaysia berkontribusi pada harga yang lebih tinggi. Ekspor minyak sawit yang baik juga dinilai mengangkat sentimen. 

Sebelumnya pada Senin (22/4) Badan meteorologi Malaysia mengeluarkan peringatan cuaca panas Tingkat 1 di lebih dari 10 wilayah. Cuaca yang panas dapat berdampak negatif terhadap hasil sawit. 

Lalu, Kementerian Perdagangan Indonesia juga mengatakan ekspor minyak sawit dari Tanah Air diperkirakan akan pulih pada April 2024, setelah dalam setahun terakhir pengiriman pada Maret dan Februari 2024 menurun di bawah rata-rata bulanan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper