Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Makin Lesu Tembus Rp15.802 per Dolar AS, Efek The Fed

Rupiah dibuka makin lesu ke posisi Rp15.802 per dolar AS pada Selasa (26/3/2024).
Karyawan menata uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menata uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah dibuka makin melemah ke posisi Rp15.802 di hadapan dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (26/3/2024). Mayoritas mata uang Asia menguat, sedangkan dolar AS terpantau melemah pagi ini.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, mata uang rupiah dibuka melemah 0,02% atau 3 poin ke level Rp15.802 per dolar AS. Sementara itu, indeks mata uang Negeri Paman Sam terkoreksi 0,03% ke posisi 104,18.  

Adapun, mata uang Asia yang masih kebal terhadap dolar AS yaitu yen Jepang naik 0,05%, dolar Singapura naik 0,11%, dolar Taiwan menguat 0,04%, won Korea terapresiasi 0,34%, peso Filipina menguat 0,24%, dan ringgit Malaysia menguat 0,11%.

Sementara itu, mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS bersama rupiah yakni yuan China dan baht Thailand masing-masing turun 0,07%, lalu rupee India ambles 0,33%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menuturkan sentimen datang dari The Fed yang mempertahankan suku bunga antara 5,25%-5,5% dan memproyeksi terdapat tiga kali pemotongan suku bunga pada akhir tahun. 

Kendati demikian, The Fed juga menuturkan tidak akan melakukan pemangkasan suku bunga sampai mereka yakin inflasi akan menurun secara berkelanjutan menuju target 2%.  

Ibrahim menuturkan, sekitar 84 basis points pemotongan suku bunga The Fed diperkirakan akan terjadi pada tahun ini, yang jauh lebih rendah dari perkiraan awal tahun, yakni sebesar 160 basis poin.

Dari sentimen dalam negeri, Ibrahim menuturkan sentimen datang dari pasar yang terus mengamati surplus neraca dagang Indonesia yang terus menurun beberapa waktu terakhir. Ibrahim mencatat nilai ekspor minus 9,4%, tetapi impor meningkat hingga 15,8%. 

"Walaupun pemerintah senang karena Neraca Dagang Indonesia masih surplus, tetapi tren ekspor masih melemah dalam satu tahun terakhir. Ini yang tidak baik dan merupakan ancaman dari situasi global yang terus memanas sampai saat ini belum ada kejelasan," ujar Ibrahim dalam riset. 

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah bergerak fluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp15.780-Rp15.850 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper