Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Permintaan Khusus Jokowi ke Bos GOTO soal Kongsi Tokopedia-TikTok

Presiden Jokowi memberikan perhatian khusus terhadap kongsi TikTok dengan Tokopedia, entitas Grup GOTO.
CEO GOTO Group, Patrick Walujo dalam acara peluncuran aplikasi Gopay di Jakarta, Rabu (26/7/2023) - Youtube Gopay.
CEO GOTO Group, Patrick Walujo dalam acara peluncuran aplikasi Gopay di Jakarta, Rabu (26/7/2023) - Youtube Gopay.

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan perhatian khusus terhadap kongsi TikTok dengan Tokopedia. Hal tersebut disampaikan langsung kepada bos PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) Patrick Walujo.

Dalam acara buka bersama dengan pimpinan media massa nasional, Patrick Walujo bercerita bahwa usai melakukan audiensi dengan Presiden Jokowi pada Senin (25/3/2024). Menurutnya, banyak hal dibahas dalam pertemuan tersebut.

Dia mengungkapkan bahwa salah satu yang menjadi perhatian khusus Jokowi soal aksi akuisisi TikTok terhadap Tokopedia. Dari akuisisi itu, sambungnya, presiden minta diperhatikan produsen di dalam negeri dibandingkan dengan mementingkan produk impor.

“Beliau minta ‘coba tolong Tiktok Shop dan Tokopedia itu memperhatikan produsen-produsen Indonesia’, terutama UMKM [usaha mikro kecil dan menengah] agar diberikan ruang untuk bisa bersaing,” tuturnya.

Menurutnya, hal tersebut disampaikan presiden, karena keprihatinan terhadap maraknya barang impor yang dijual murah oleh semua platform dagang elektronik, sehingga menggilas produksi UMKM di dalam negeri. “Begitu banyak [produk impor], makin lama makin murah, akibatnya produsen [di dalam negeri] sulit bersaing.”

Patrick menceritakan bahwa TikTok Shop dan Tokopedia sudah memiliki fitur beli lokal yang diluncurkan pada Desember 2023. Dia mengklaim produsen Indonesia atau UMKM telah memamfaatkan fitur tersebut sehingga hasilnya positif. “Kami akan lanjutkan di massa akan datang.”

Selain itu, sambungnya, dibahas juga mengenai kehadiran pemain asing, terutama di industri digital berteknologi tinggi, diharapkan mampu menciptakan talenta-talenta digital di Indonesia.

Hal tersebut, tuturnya, agar Indonesia tidak menjadi pasar semata, melainkan sumberdaya manusia dapat berkontribusi dalam perkembangan industri digital. “Gimana anak-anak muda kita dapat jadi engineer, data scientist, AI scientist.”

Dia menyampaikan bahwa GOTO bersama TikTok dan Tokopedia akan membuka pusat teknologi di Universitas Gajah Mada. “Akan dibuka kelas pelatihan dan diberikan kesempatan mahasiswa untuk magang di kantor TikTok di seluruh dunia.  Itu salah satu bentuk komitmen kami.”

Aksi Korporasi TikTok dengan Tokopedia

Seperti diketahui, pada tahun lalu TikTok bersepakat dengan GOTO untuk mengakuisisi saham Tokopedia. Dalam keterbukaan informasi yang diterbitkan oleh GOTO, disebutkan bahwa 75,01% saham Tokopedia bakal resmi dimiliki TikTok sampai tenggat 31 Maret 2024.  Adapun sisa 24,99% saham tetap dimiliki oleh GOTO. 

Ada tiga skema dalam aksi korporasi itu. Pertama, Tokopedia membeli aset TikTok Shop yang beroperasi di Indonesia senilai US$340 juta atau setara Rp5,3 triliun (asumsi kurs Rp 15.700 per dolar AS). 

Kedua, Tiktok melalui TikTok Nusantara (SG) Pte. Ltd mengambilbagian 75,01% saham baru yang diterbitkan Tokopedia senilai US$ 840 juta atau setara Rp13,2 triliun. Ketiga, Tokopedia akan memperoleh Promissory Notes dari TikTok senilai US$ 1 miliar atau setara Rp 15,5 triliun yang nantinya akan dijadikan sebagai modal kerja. 

Setelah terjadi komitmen itu, TikTok diperbolehkan membuka keranjang kuning, alias TikTok Shop yang sebelumnya sempat dilarang pemerintah. Alasan disetujui dibuka kembali karena ada aksi korporasi tersebut.

TikTok Shop semula dilarang karena dinilai platform tersebut hanya sebatas media sosial. Apabila ingin diberbolehkan jualan, TikTok harus memiliki e-commerce. Akhirnya TikTok memilih mengakusisi Tokopedia.

Kendati demikian, pembukaan keranjang kuning itu ditentang oleh Kementerian Koperasi dan UMKM Teten Masduki. Menurutnya, meski ada aksi akuisisi, tetapi platform TikTok masih sebagai media sosial sebelum secara resmi merger dengan Tokopedia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hendri T. Asworo
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper