Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Proyeksi Saham Bumi Serpong (BSDE) Usai Laba Bersih 2023 Menurun

Saham Bumi Serpong Damai (BSDE) berpotensi dibayangi sentimen negatif dalam jangka pendek, usai laba bersih 2023 turun 20,04%.
Saham Bumi Serpong Damai (BSDE) berpotensi dibayangi sentimen negatif dalam jangka pendek, usai laba bersih 2023 turun 20,04%.
Saham Bumi Serpong Damai (BSDE) berpotensi dibayangi sentimen negatif dalam jangka pendek, usai laba bersih 2023 turun 20,04%.

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) telah mengumumkan kinerja keuangan sepanjang 2023. Hasilnya, laba bersih perseroan mengalami penurunan 20,04% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp1,95 triliun.

Investment Analyst Stockbit Arvin Lienardi mengatakan capaian laba bersih BSDE pada tahun lalu hanya memenuhi 77,2% dari estimasi konsensus. Menurutnya, hasil tersebut dapat menjadi sentimen negatif bagi saham BSDE ke depan. 

“Hasil kinerja yang di bawah konsensus berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pergerakan harga saham BSDE dalam jangka pendek,” ujarnya pada Jumat (15/3/2024). 

Dia memerinci bahwa sejatinya pendapatan BSDE masih tumbuh 12,74% YoY menjadi Rp11,53 triliun pada 2023. Namun, kenaikan beban pokok penjualan sebesar 50,39% dan beban operasional yang meningkat 12,19%, telah membuat margin laba kotor turun ke level 16,9%. 

Dalam investor release, kata Arvin, dijelaskan penurunan margin laba kotor terjadi akibat margin penjualan tanah dan bangunan jauh lebih rendah, serta komposisi penjualan apartemen yang lebih tinggi. Apartemen sendiri memiliki margin jauh lebih kecil dari rumah tapak.

Meski laba berada di bawah target konsensus, kinerja prapenjualan atau marketing sales BSDE diproyeksikan tetap solid karena didorong penerapan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). 

Secara operasional, BSDE membukukan prapenjualan 2023 sebesar Rp9,5 triliun. Capaian tersebut melampaui target yang ditetapkan yakni Rp8,8 triliun. Pada 2024, manajemen kembali menargetkan prapenjualan pada level Rp9,5 triliun.

“Sektor properti juga berpotensi mendapatkan sentimen positif dari peluang pemangkasan suku bunga, yang diekspektasikan oleh market terjadi pada kuartal II atau III/2024,” tuturnya. 

Kendati demikian, Arvin menyatakan inflasi indeks harga konsumen Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi di kisaran 3% membuat ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed pada Juni mendatang semakin menurun. 

Sementara itu, waktu dan besaran pemangkasan suku bunga dari Bank Indonesia (BI) akan dipengaruhi oleh rilis data ekonomi seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan nilai tukar rupiah.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur BSDE Hermawan Wijaya mengatakan bahwa perseroan berharap perekonomian kembali berjalan normal setelah penyelenggaraan Pemilu 2024. 

Dia juga menyatakan dengan posisi kas dan setara kas sebesar Rp9,43 triliun, serta persediaan yang mencapai Rp14,31 triliun akan menjadi bekal positif bagi perseroan untuk melanjutkan pertumbuhan secara berkelanjutan pada tahun ini. 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper