Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pertumbuhan Kredit Bank 2024 jadi Tantangan SBN, Kok Bisa?

Pertumbuhan kredit perbankan yang kian meningkat membuat alokasi pembelian SBN oleh bank juga semakin berkurang.
Karyawan mencari informasi terkait Obligasi Negara Ritel (ORI) di Jakarta. Bisnis/Nurul Hidayat
Karyawan mencari informasi terkait Obligasi Negara Ritel (ORI) di Jakarta. Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan kredit bank pada 2024 bisa menjadi tantangan penjualan obligasi atau surat berharga negara (SBN), karena bank lebih fokus memacu pembiayaan alih-alih memborong instrumen investasi tersebut.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) menargetkan penjualan Surat Berharga Negara atau SBN senilai Rp666 triliun dalam APBN 2024. Jumlah itu meningkat hingga 115% dibandingkan dengan realisasi pada 2023 senilai Rp308 triliun.

Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu Deni Ridwan menjelaskan ada tantangan tersendiri dalam penerbitan SBN tahun ini. Pertumbuhan kredit perbankan yang kian meningkat membuat alokasi pembelian SBN ritel oleh bank juga semakin berkurang.

Diberitakan sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat pinjaman yang dicairkan perbankan pada awal tahun ini atau Januari 2024 tumbuh pesat di level 11,83% secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan kredit hingga double digit itu terdorong oleh penawaran dan permintaan pinjaman yang kuat.

"Tantangan kami sebetulnya hampir sama dengan surat utang yang non-ritel. Karena sekarang kan ekonomi sudah mulai membaik, kita lihat dengan kondisi seperti ini, pertumbuhan kredit bank sudah double digit sekarang ya, di angka 11%—12%," ujarnya kepada Bisnis baru-baru ini.

Menurutnya, hal itu juga positif karena bisnis perbankan memang berasal dari penyaluran kredit. Namun, hal itu juga menyebabkan alokasi dana yang perbankan tempatkan di SBN menjadi relatif lebih terbatas. 

"Kami sebagai penerbit juga menjadi tantangan ya, artinya dukungan dari perbankan tidak akan sebesar tahun lalu," jelas Deni.

Lebih lanjut dia mengatakan, tantangan penerbitan SBN, khususnya SBN ritel juga datang dari likuiditas di pasar yang akan semakin terbatas dibandingkan tahun lalu. Selain itu, dengan kondisi ekonomi RI yang semakin pulih, maka tren investasi masyarakat di SBN ritel juga akan beralih.

"Nah, jadi untuk SBN ritel pun saya pikir akan ada tantangan seperti itu juga, mungkin masyarakat sudah mulai ingin mengembangkan bisnis. Kalau sebelumnya mereka taruh dana di SBN, untuk bisnis mungkin mereka akan mengurangi atau membatasi investasi di SBN," ujarnya.

Kendati dibayangi berbagai tantangan tersebut, Kemenkeu optimistis dapat mencapai target penerbitan SBN ritel sebesar Rp140 trilun—160 triliun tahun ini.

"Mudah-mudahan masih bisa kami capai karena dengan melihat track record selama ini, kita bisa tumbuh antara 20%—30% per tahun untuk investor ritel,” pungkas Deni.

Adapun, tahun ini Kemenkeu akan merilis 8 seri SBN ritel yakni seri Obligasi Negara Ritel (ORI), Savings Bond Ritel (SBR), Sukuk Tabungan (ST), Sukuk Ritel (SR), dan CWLS Ritel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper