Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka ke Rp15.621 per Dolar AS, Mata Uang Asia Meriah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat ke level Rp15.621 pada perdagangan hari ini, Jumat (8/3/2024) seiring dengan penguatan mata uang Asia.
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka menguat ke level Rp15.621 pada perdagangan hari ini, Jumat (8/3/2024). Rupiah menguat di tengah pelemahan dolar AS.

Mengutip data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka menguat 0,21% ke Rp15.621 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS melemah 0,03% ke 102,79.

Bersamaan dengan rupiah, yen Jepang naik 0,03%, dolar Hong Kong turun 0,01%, won Korea Selatan naik 0,41%, dan yuan China turun 0,02%.

Sementara itu, mayoritas mata uang di kawasan Asean bergerak bervariasi seperti dolar Singapura turun 0,02%, peso Filipina naik 0,04%, ringgit Malaysia naik 0,34%, dan baht Thailand turun 0,03%. 

Sebelumnya, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen global datang dari Ketua The Fed Jerome Powell yang mengatakan dalam kesaksiannya semalam bahwa The Fed memang berniat menurunkan suku bunga pada tahun 2024. Hal ini menjadi skenario yang baik bagi aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil. 

Namun, Powell masih memberikan sedikit petunjuk mengenai waktu dan skala pemotongan suku bunga yang direncanakan. Powell juga menyatakan jalur perekonomian dan inflasi AS kemungkinan besar akan menentukan pelonggaran moneter. 

Dia juga menuturkan The Fed perlu lebih diyakinkan bahwa inflasi mendekati target tahunan 2%. 

Ibrahim melanjutkan, fokus pasar saat ini juga tertuju pada data utama nonfarm payrolls yang akan dirilis pada hari Jumat, untuk mendapatkan lebih banyak isyarat mengenai pasar tenaga kerja. Data ini juga merupakan pertimbangan utama bagi The Fed dalam menyesuaikan suku bunganya.

Dari dalam negeri, sentimen datang dari Bank Indonesia (BI) yang melaporkan cadangan devisa (cadev) pada akhir Februari 2024 tetap pada posisi yang tinggi. Meski begitu, nilainya turun dari Januari 2024.

"Penurunan cadangan devisa ini sesuai dengan ekspektasi para analis," ujar Ibrahim.

Penurunan cadangan devisa ini dipengaruhi oleh potensi menyusutnya neraca perdagangan Indonesia, seiring berlanjutnya pelemahan permintaan global serta jatuh temponya salah satu obligasi valas, RI0224, pada pertengahan Februari. Tercatat, total nilai obligasi ini sebesar US$474 juta.  

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2024 sebesar US$144 miliar. Cadangan devisa menurun dibandingkan posisi akhir Januari 2024 yang sebesar US$145,1 miliar. 

Penurunan posisi cadangan devisa tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Adapun untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat terbatas di rentang  Rp15.620-Rp15.790.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper