Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nilai Tukar Rupiah Alami Tekanan dari Dolar AS, Loyo ke Rp15.810

Mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.810 per dolar AS pada perdagangan Rabu (31/1/2024) saat The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Selasa (5/9/2023). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Selasa (5/9/2023). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah dibuka melemah ke posisi Rp15.810 per dolar AS pada perdagangan Rabu (31/1/2024) saat The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 30-31 Januari 2024. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,19% atau 30 poin ke level Rp15.810 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terpantau naik 0,13% ke level 103,350. 

Mayoritas mata uang kawasan Asia lainnya bergerak beragam terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,02% dan rupee India naik 0,03%. 

Sementara itu,  dolar Singapura turun 0,07%, dolar Taiwan anjlok 0,30%, won Korea melorot 0,25%, peso Filipina melemah 0,10%, yuan China turun 0,01%, ringgit Malaysia melemah 0,02% dan Bath Thailand turun 0,01%. 

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang rupiah pada perdagangan hari ini bergerak fluktuatif namun ditutup menguat di rentang  Rp15.750 - Rp15.830 per dolar AS. 

Ibrahim menjelaskan para pedagang menyatakan bahwa kemungkinan penurunan suku bunga oleh bank sentral AS pada bulan Maret telah berkurang menjadi 48%, dibandingkan dengan 89% pada bulan sebelumnya, menurut FedWatch Tool dari CME Group. Data ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS tetap kuat.

"Impresi yang diberikan adalah bahwa Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga stabil pada hari Rabu, dan investor akan memfokuskan perhatian pada komentar Ketua Fed Jerome Powell. Pada bulan Desember, beliau mengisyaratkan bahwa Fed akan beralih ke siklus penurunan suku bunga," kata Ibrahim dalam riset harian, Selasa (30/1/2024).

Selain itu, Departemen Keuangan AS menyatakan perkiraan peminjaman sebesar US$760 miliar pada kuartal I/2024, lebih rendah US$55 miliar dari perkiraan bulan Oktober. Investor juga waspada terhadap meningkatnya risiko geopolitik setelah tiga anggota militer AS tewas dalam serangan pesawat tak berawak terhadap pasukan AS di timur laut Yordania, dekat perbatasan Suriah.

Di Eropa, Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga pada rekor tertinggi 4% pada hari Kamis dan menegaskan kembali komitmennya untuk memerangi inflasi, bahkan ketika waktu untuk mulai mengurangi biaya pinjaman semakin dekat.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan optimisme pemerintah dan para ekonom tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan dapat mencapai angka 5% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada tahun 2023. 

Meskipun dalam suasana ketidakpastian global yang cenderung melambat, ekonomi Indonesia tetap tangguh. Permintaan domestik menjadi pilar utama dan sebagai pengganti pelemahan eksternal.

Aktivitas konsumsi masyarakat yang tetap kuat, didukung oleh tingkat inflasi yang terkendali dan penurunan tingkat pengangguran, bersama peran aktif APBN sebagai penyerap kejutan untuk menjaga daya beli masyarakat sepanjang 2023

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper