Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kemenkeu Sebut Realisasi Penerbitan SBN Ritel 2023 Moncer, Tahun Depan Masih Semarak

DJPPR Kemenkeu menyampaikan realisasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel sepanjang tahun 2023 ini moncer.
Investor menunjukan aplikasi reksadana yang menjual Surat Berharga Negara di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis/Abdurachman
Investor menunjukan aplikasi reksadana yang menjual Surat Berharga Negara di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA - Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) menyampaikan realisasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel sepanjang tahun 2023 ini moncer, sehingga pada 2024 mendatang SBN ritel diprediksi masih semarak.

Direktur Surat Utang Negara Kemenkeu Deni Ridwan mengatakan sepanjang tahun ini pemerintah telah menerbitkan SBN ritel sebanyak tujuh kali termasuk ST011, dengan realisasi penerbitan mencapai Rp127,4 triliun. 

Adapun, angka tersebut belum termasuk ST011, sehingga akan bertambah seiring dengan penetapan hasil penjualan ST011 pada 11 Desember 2023.

"Capaian hasil penerbitan SBN ritel tahun 2023 tersebut melampaui target awal tahun 2023 sebesar Rp130 triliun, dan meningkat cukup signifikan dari capaian penerbitan SBN ritel tahun 2022 lalu sebesar Rp107,4 triliun," ujar Deni kepada Bisnis, pada Selasa, (5/12/2023).

Menurutnya, capaian ini cukup menggembirakan di tengah dinamisnya kondisi pasar keuangan domestik yang banyak dipengaruhi ketidakpastian global, seperti tingginya inflasi dan tingkat suku bunga di negara maju serta perlambatan ekonomi dunia. 

Selain itu, lanjutnya, capaian penerbitan SBN ritel yang terus meningkat setiap tahun mencerminkan semakin baiknya literasi keuangan masyarakat, sehingga mendukung stabilitas pasar keuangan domestik dan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan nasional. Alhasil, prospek penerbitan SBN ritel 2024 diprediksi masih ramai.

"Prospek investasi SBN ritel tahun 2024 diperkirakan masih semarak. Beberapa faktor pendukungnya antara lain adalah kondisi perekekonomian nasional yang tetap solid dengan pertumbuhan ekonomi yang positif dan tingkat inflasi yang terkendali," ujar Deni.

Demikian juga dengan faktor global seperti tingkat inflasi di negara-negara maju yang semakin membaik sehingga menurutnya berpotensi menurunkan tingkat suku bunga di negara-negara tersebut. 

Adapun, Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) masih menahan suku bunga di kisaran 5,25%-5,5% dan masih berhati-hati untuk menaikkan suku bunga. Di lain sisi, Bank Indonesia (BI) juga menahan suku bunga di level 6% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Kamis (23/11/2023).

Sebelumnya diberitakan, pemerintah berencana menargetkan pembiayaan utang yang bersumber dari Surat Berharga Negara (SBN) Rp666,44 triliun seperti tertuang dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024.  

RAPBN yang akan dibiayai oleh penerbitan SBN pada tahun depan naik 83,6% jika dibandingkan dengan outlook APBN tahun 2023 sebesar Rp362,93 triliun.  

Dokumen Nota Keuangan dan RAPBN 2024 menyebutkan target penerbitan SBN akan dipenuhi melalui dua instrumen utama yaitu SUN dan SBSN baik dalam bentuk rupiah maupun valas  dengan tenor 2-50 tahun dan SPN/S. 

Sepanjang 2023, pemerintah telah menerbitkan tujuh seri SBN ritel, yakni SBR012, SR018, ST010, ORI023, SR019, ORI024, dan ST011. Adapun, ST011 merupakan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) terakhir yang ditawarkan DJPPR Kemenkeu dengan masa penawaran 6 November 2023 sampai 6 Desember 2023. 

Berdasarkan data mitra distribusi Investree per Selasa, (5/12/2023) pukul 16.00 WIB, ST011-T2 telah terjual sebesar Rp13,98 triliun. Artinya, penjualan ST011-T2 telah mencapai 96,45% dari target sebesar Rp14,5 triliun. 

Kemudian, Sukuk Tabungan ST011-T4 telah ludes terjual sebanyak Rp5,50 triliun atau 100% dari target. Alhasil, penjualan kedua seri ST011 tercatat sebesar Rp19,48 triliun.

Sebagaimana diketahui, terdapat dua tenor untuk Sukuk Tabungan, yaitu seri ST011-T2 bertenor 2 tahun memiliki imbal hasil sebesar 6,3% (floating with floor) per tahun, dan ST011-T4 tenor 4 tahun dengan imbal hasil sebesar 6,5% (floating with floor) per tahun.  

ST011 ditawarkan dengan kupon floating with floor, artinya imbal hasil dapat bertambah sesuai dengan perubahan pada suku bunga acuan Bank Indonesia (BI7DRR), namun tidak akan lebih rendah dari saat pertama kali terbit. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper