Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Kejar 7.000, Analis Rekomendasi Saham Potensi Cuan

Analis melihat terdapat beberapa saham yang menarik untuk dicermati seiring dengan potensi IHSG menembus level 7.000.
Analis melihat terdapat beberapa saham yang menarik untuk dicermati seiring dengan potensi IHSG menembus level 7.000. Bisnis/Dedi Gunawan
Analis melihat terdapat beberapa saham yang menarik untuk dicermati seiring dengan potensi IHSG menembus level 7.000. Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mampu menembus level 7.000 pada Agustus 2023 dengan memperhatikan beberapa katalis.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan apabila melihat dari sentimen data market China, memang mengalami kontraksi di bawah angka 50. Hal tersebut menurutnya belum sesuai dengan ekspektasi terhadap pertumbuhan kinerja Cjina dan menjadi salah satu alasan IHSG belum berhasil menembus level 7.000.

Meski demikian, Nafan melihat terdapat beberapa sentimen yang bisa membuat IHSG tumbuh ke level 7.000. Sentimen tersebut seperti data pertumbuhan ekonomi atau PDB yang akan rilis di awal bulan ini.

"So far kinerja pertumbuhan ekonomi kita masih diproyeksikan stabil di 5,2 persen, sehingga hal tersebut akan memberikan booster pada pelaku investor untuk berinvestasi sehingga membuat kinerja indeks mengalami performa yang kembali positif," kata Nafan kepada Bisnis, dikutip Rabu (2/8/2023).

Dia merekomendasikan investor untuk mengakumulasi saham-saham emiten yang memiliki kinerja dan prospek yang positif. 

Beberapa saham yang direkomendasikan Nafan adalah bank BUKU IV seperti BMRI, BBNI, dan BBCA. Selain itu, saham yang berkaitan dengan kinerja telekomunikasi seperti TLKM juga menurutnya dapat dicermati. 

"Sehubungan dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang berhubungan dengan demand dari infrastruktur telekomunikasi. Apalagi nanti akan pemilu," ucapnya. 

Selain itu, Nafan juga menuturkan saham manufaktur seperti ASII bisa dicermati. Begitu pula saham di sektor konsumer seperti ICBP dan INDF dapat dicermati dengan rating buy on weakness.

___

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper