Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dampak Gagal Bayar AS Terhadap Obligasi Indonesia, Pasar Wait and See

Mirae Asset Sekuritas menyebut, investor obligasi masih wait and see menyikapi potensi gagal bayar utang AS.
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis/Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Potensi gagal bayar utang Amerika Serikat setidaknya memberikan dampak bagi pasar obligasi pemerintah Indonesia atau Surat Berharga Negara (SBN) yang wait and see meskipun pasar sebenarnya juga menanti data ekonomi AS yang lain. 

Ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan gagal bayarnya AS akan berpengaruh terhadap instrument investasi dalam negeri terutama SBN. 

“SBN masih tetap menarik, meski saya menyarankan mungkin saat ini harus wait and see, menjelang bulan Juni, batas kesepakatan debt ceiling untuk menghindari default,” katanya kepada Bisnis, Minggu (7/5/2023). 

Rully menambahkan dalam jangka pendek pasar akan terus memantau perkembangan berbagai data ekonomi AS. 

Pasar juga akan menunggu rilis data inflasi AS yang akan diumumkan pada hari Rabu besok, di mana pasar memperkirakan inflasi IHK AS akan tetap berada pada level 5 persen YoY. 

Pekan lalu, imbal hasil UST untuk tenor 2 tahun dan 10 tahun mengalami kenaikan, relatif moderat, masing-masing saat ini di level 3,91 persen dan 3,44 persensetelah data non farm payroll tercatat jauh lebih tinggi dari konsensus, dan  sebesar 253 ribu, konsensus memprediksi 185 ribu sementara jumlah pengangguran turun menjadi 3,4 persen. 

Mengenai potensi gagal bayar AS, Rully mengatakan pasar akan terus mengamati perkembangan negosiasi antara pemerintah dengan kongres AS. Hal ini berdampak besar kepada UST yang berjangka pendek, terutama yang jatuh tempo di bulan Juni dan awal Juli karena kekhawatiran akan gagal bayar utang pemerintah AS apabila kenaikan debt ceiling gagal menemukan kesepakatan. 

“Adanya potensi terjadi volatilitas jangka pendek, dan akhirnya akan menemui kesepakatan. Namun apabila melihat secara historis, di tahun 2011, krisis utang AS, walaupun akhirnya disepakati, namun S&P menurunkan rating peringkat utang AS menjadi AA- dari AAA,” jelas Rully. 

Seperti yang diketahui bahwa ancaman gagal bayar utang pemerintah Amerika Serikat kembali menjadi perhatian global. Keputusan antara DPR AS, Senat, dan Presiden Joe Biden kian memanas terutama dalam membahas kenaikan pagu utang federal.   

Mengutip pemberitaan Reuters, Menteri Keuangan (Menkeu) AS Janet Yellen mengatakan kegagalan kongres untuk menaikkan pagu utang pemerintah AS maka akan berimbas pada kenaikan suku bunga yang lebih tinggi di tahun mendatang.  

Yellen mengatakan default pada utang AS akan mengakibatkan hilangnya pekerjaan, sementara mendorong pembayaran rumah tangga pada hipotek, pinjaman mobil dan kartu kredit lebih tinggi.

Default akan mengancam kemajuan ekonomi yang telah dibuat Amerika Serikat sejak pandemi Covid-19. Default akan meningkatkan biaya pinjaman menjadi abadi. Investasi masa depan akan menjadi jauh lebih mahal. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper