Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Emas Melandai setelah All Time High, Masih Mampu Rebound?

Harga emas global tergelincir usai memecahkan rekor all time high US$2.040 per troy ons pada pekan ini. Banderol emas diperkirakan masih bisa mencapai puncaknya
Pegawai menunjunkan emas batangan di Galeri 24, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Pegawai menunjunkan emas batangan di Galeri 24, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA -  Harga emas global tergelincir usai memecahkan rekor all time high US$2.040 per troy ons pada pekan ini. Banderol emas diperkirakan masih bisa mencapai puncaknya tahun ini. 

Mengutip data Bloomberg, harga emas Comex terpantau turun 9,20 poin atau 0,45 persen ke US$2.026,40 per troy ons. Sementara itu, harga emas spot terpantau turun 12,82 poin atau 0,63 persen ke US$2.007,91 per troy ons. 

Research & Development ICDX, Revandra Aritama mengatakan pada kuartal II/2023 sejumlah sentimen membayangi pergerakan harga emas, di antaranya pengaruh krisis perbankan dunia terhadap kondisi ekonomi, kebijakan The Fed menyusul kondisi ekonomi saat ini, dan kondisi inflasi AS. 

"Kami memproyeksikan range harga emas akan berada di sekitar US$1.850-US$2.050 per oz," ujarnya saat ditemui Kamis (6/4/2023). 

Revan mengatakan sentimen pergerakan harga emas tidak jauh dari kebijakan suku bunga The Fed, baik jika regulator Paman Sam itu akan menahan atau menurunkan suku bunga. 

"Kalau suku bunga diturunkan sementara inflasi masih tinggi, ada peluang buat emas akan naik, kami coba ambil harga yang agak ekstrem mungkin mendekati all time high seperti yang terjadi pada 2020, di US$2.050 per ons," katanya. 

Soal efek krisis perbankan global, Revan mengatakan jika  pengaruhnya tidak terlalu besar ekonomi AS pertumbuhannya baik sehingga The Fed masih akan lanjut menaikkan suku bunga. Terdapat kemungkinan harga emas bisa turun lagi karena indeks dolar AS bisa naik lagi karena kebijakan kenaikan suku bunga. 

Adapun, dari naik turunnya harga emas, akan mempengaruhi pergerakan instrumen investasi lainnya seperti obligasi. Pasalnya,  harga emas bergerak berlawanan dengan return obligasi. 

"Kalau obligasi naik harga emas turun dan sebaliknya. Kalau untuk komoditas lain pengaruhnya tidak secara langsung, mungkin bisa seperti misalnya harga energi naik, memicu inflasi, nah pasti harga emas ikutan naik,"  jelasnya.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper