Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Prospek Emiten Batu Bara yang Garap Bisnis Energi Terbarukan (EBT) Lebih Cerah

Prospek emiten batu bara yang melakukan diversifikasi ke EBT bisa lebih cerah dari emiten yang fokus hanya EBT, karena sumber pendapatannya bisa lebih dinamis.
Prospek emiten batu bara yang melakukan diversifikasi ke energi baru terbarukan (EBT) bisa lebih cerah dari emiten yang fokus hanya EBT, karena sumber pendapatannya bisa lebih dinamis. /JIBI-Nurul Hidayat
Prospek emiten batu bara yang melakukan diversifikasi ke energi baru terbarukan (EBT) bisa lebih cerah dari emiten yang fokus hanya EBT, karena sumber pendapatannya bisa lebih dinamis. /JIBI-Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten tambang batu bara berlomba melakukan diversifikasi bisnis energi baru terbarukan (EBT). Hal ini dinilai memberikan sentimen positif lebih besar dibandingkan dengan emiten yang sejak awal hanya fokus pada bisnis EBT meskipun sepanjang 2023 berjalan harganya mengalami penurunan.

Analis Henan Putihrai Sekuritas Ezaridho Ibnutama mengatakan, dengan pergeseran bisnis emiten tambang batu bara ke bisnis EBT akan cukup membantu mendorong kinerja dan sentimen positif pada emitennya.

“Pergeseran ke bisnis EBT kemugkinan besar akan membantu prospeknya lebih positif, tapi investor EBT juga harus mencermati bisnisnya, apakah di upstream, seperti tambang nikel dan mineral lain untuk baterai kendaraan listrik, atau downstream yang memproduksikan kendaraan listrik,” kata Ezaridho kepada Bisnis, Kamis (23/2/2023).

Dengan adanya sejumlah emiten lain yang sejak awal fokus ke EBT seperti PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO), atau yang baru akan melantai di Bursa seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), Ezaridho menilai emiten tambang yang melakukan transformasi justru bisa lebih diuntungkan dari yang baru.

“Transformasi energi memaksakan emiten batu bara untuk menjadi lebih dinamis, Perseroan batu bara berfokus dengan segmen pendapatan yang lebih luas daripada satu segmentasi bisnis. PGEO dan ARKO, meskipun emiten EBT, masih kurang dinamis karena cuman ada satu revenue stream saja,” jelasnya.

Adapun, bagi investor yang berminat untuk berinvestasi di emiten dengan bisnis EBT, Ezaridho mengatakan agar tetap mencermati fundamental Perseroan.

“Investor tetap harus melihat tidak hanya diversifikasi, tapi juga segmen dan kinerja pendapatan emitennya,” ujarnya.

Sebelumnya, Pengamat Pasar Modal Rivan Kurniawan juga mengatakan, bagi investor yang ingin berinvestasi di saham EBT seperti segmen nikel atau kendaraan listrik, bisa memilih emiten yang dapat menghasilkan produk yang sejalan dengan perkembangan EV di masa mendatang. Selain itu, berhati-hati juga dengan valuasinya.

“Saat ini memang rata-rata valuasinya masih di angka tinggi dan berbanding lurus dengan risiko yang akan didapat. Kemudian, jika ingin berinvestasi di industri nikel atau EV, jangan bertujuan untuk jangka pendek, tapi perlu lihat juga dalam jangka panjang,” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper