Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Surplus Neraca Dagang RI 33 Bulan Beruntun, Rupiah Bisa Menguat

Surplus neraca dagang menjadi tanda bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih cukup bagus untuk saat ini dan dapat menjadi penopang penguatan rupiah.
Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Surplus neraca perdagangan Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) disebut dapat menjadi sentimen penguatan rupiah dalam jangka. Namun, pelaku pasar juga perlu mewaspadai agresivitas moneter Bank Sentral AS Federal Reserve

Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra mengatakan neraca perdagangan yang surplus menjadi tanda bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih cukup bagus untuk saat ini dan dapat menjadi penopang penguatan rupiah ke depan. 

“Data-data ekonomi Indonesia belakangan memang menunjukan kondisi ekonomi Indonesia yang masih cukup bagus, termasuk data neraca perdagangan ini yang masih tetap surplus,” katanya menjawab pertanyaan Bisnis, Rabu (15/2/2023). 

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2023 mecetak surplus US$3,9 miliar. Capaian tersebut naik tipis dibandingkan dengan surplus bulanan pada Desember 2022 sebesar US$3,89 miliar. 

Adapun, realisasi kinerja ekspor dan impor Januari 2023 merupakan surplus beruntun dalam 33 bulan terakhir.

“Kondisi ekonomi yang membaik ini bisa menopang penguatan rupiah,” lanjut Ariston. 

Namun demikian, kata Ariston, secara historis, pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh sentimen dari luar. Ekspektasi terhadap lanjutan kenaikan suku bunga acuan AS memberikan tekanan ke rupiah.

Data ekonomi AS yang juga menunjukan kondisi ekonomi yang masih bagus memberikan ruang bagi Bank Sentral AS untuk menaikan suku bunga acuannya untuk mengendalikan inflasi AS yang masih jauh di atas target 2 persen.

“Dalam jangka pendek tidak, tapi jangka menengah akan menopang penguatan rupiah kalau sentimen luar mereda,” imbuhnya.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Selasa (14/2/2023) bahwa indeks harga konsumen AS, ukuran utama inflasi, naik 0,5 persen pada Januari dalam basis bulanan (mom), kenaikan terbesar dalam tiga bulan dan lebih tinggi dari 0,4 persen yang diharapkan oleh para ekonom.

Tingkat inflasi tahunan mencapai 6,4 persen pada Januari, turun sedikit dari 6,5 persen pada Desember dan lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 6,2 persen.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan hari ini, Rupiah ditutup melemah ke posisi Rp15.208 per Dolar AS. Posisi ini turun sebesar 0,26 persen atau 39 poin dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. 

Berdasarkan data Bloomberg pukul 16.21 WIB, indeks dolar AS terpantau menguat 0,31 persen ke posisi 103,553. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper