Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Harga Minyak Dunia Kena Taking Profit Investor kala Tren Penguatan

Harga minyak dunia terkena tekanan akibat profit taking oleh investor di tengah optimisme tentang permintaan importir minyak utama yakni China.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 24 Januari 2023  |  08:00 WIB
Harga Minyak Dunia Kena Taking Profit Investor kala Tren Penguatan
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia terkena tekanan akibat profit taking oleh investor di tengah optimisme tentang permintaan importir minyak utama yakni China.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret bertahan di US$88,19 dolar AS per barel setelah mencapai puncak di sesi I US$89,09 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada US$81,62 dolar AS per barel, turun dari puncak sesi I di US$82,64 dolar AS per barel.

Di sisi lain, Uni Eropa dan Kelompok Tujuh (G7) akan membatasi harga produk olahan Rusia mulai 5 Februari, selain batasan harga minyak mentah Rusia yang berlaku sejak Desember dan embargo Uni Eropa atas impor minyak mentah Rusia melalui laut.

G7 telah setuju untuk menunda peninjauan tingkat batas harga minyak Rusia hingga Maret, sebulan lebih lambat dari yang direncanakan, untuk memberikan waktu untuk menilai dampak dari batas harga produk minyak.

Di India, impor minyak mentah naik ke level tertinggi lima bulan pada Desember, data pemerintah menunjukkan pada Senin (23/1/2023), karena kilang-kilang menimbun bahan bakar Rusia dengan potongan harga di tengah peningkatan konsumsi yang stabil di negara tersebut.

"Sementara pembukaan kembali (China) itu sendiri tidak diragukan lagi akan menjadi rumit, terutama selama musim liburan, indikasi awal menunjukkan telah terjadi peningkatan aktivitas, yang berarti ekonomi dapat bekerja lebih baik," kata analis OANDA, Craig Erlam dikutip dari Antara.

Brent diperkirakan akan bergerak kembali ke kisaran antara US$90 hingga US$100, karena pasar minyak semakin ketat, kata Erlam. Menurutnya, permintaan produk telah mengangkat pasar minyak dan margin penyulingan, kata Flynn. Crack spread (selisih harga bahan baku dan barang jadi) 3-2-1, proksi untuk margin penyulingan, naik menjadi 42,18 dolar AS per barel pada Senin (23/1/2023), tertinggi sejak Oktober.

Data menunjukkan peningkatan yang kuat dalam perjalanan di China setelah pembatasan COVID-19 dilonggarkan, analis komoditas ANZ mengatakan dalam sebuah catatan, menunjukkan bahwa kemacetan lalu lintas jalan di 15 kota utama negara itu sejauh bulan ini naik 22 persen dari setahun lalu.

Harga minyak mentah di sebagian besar pasar fisik dunia telah memulai tahun ini dengan reli, karena China telah menunjukkan tanda-tanda pembelian lebih banyak dan pedagang khawatir sanksi terhadap Rusia dapat memperketat pasokan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak mentah wti harga minyak brent
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top