Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terancam Delisting, Ini Strategi Intraco Penta (INTA) Perbaiki Kinerja

Suspensi saham INTA disebabkan karena opini disclaimer laporan keuangan 2021 dan tahun sebelumnya, serta akumulasi ekuitas perusahaan yang negatif.
Pekerja melakukan perawatan alat berat articulate dump truck di workshop PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (25/9/2018)./JIBI-Dwi Prasetya
Pekerja melakukan perawatan alat berat articulate dump truck di workshop PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (25/9/2018)./JIBI-Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - PT Intraco Penta Tbk. (INTA) bersama anak usahanya PT Intan Baruprana Finance Tbk. (IBFN) terancam didepak oleh Bursa atau delisting. Manajemen INTA menyampaikan telah menyiapkan beberapa strategi untuk memperbaiki kinerja kedua perusahaan ini.

Group Chief Financial Officer Intraco Penta Willianto Febriansa menuturkan potensi delisting INTA muncul karena adanya suspensi saham perseroan yang terjadi sejak Mei 2022.

"Suspensi saham disebabkan karena opini disclaimer laporan keuangan 2021 dan tahun sebelumnya, serta akumulasi ekuitas perusahaan yang negatif," kata Willianto, dikutip Senin (19/12/2022).

Dia melanjutkan, dengan peringatan delisting ini, manajemen INTA akan memperbaiki kinerja perusahaan, dengan memperbaiki performa keuangan. Hal ini akan dilakukan dengan cara meningkatkan pendapatan usaha dan tetap menjaga efisiensi biaya usaha.

Dengan upaya tersebut, perseroan berharap pada tahun-tahun mendatang INTA bisa mencatat laba, sehingga dapat mengurangi efek negatif dari akumulasi equitas pada perseroan.

Sementara itu untuk IBFN, INTA selaku pemegang saham telah mencari peluang usaha baru untuk IBFN. IBFN akan mengalihkan fokusnya dari pembiayaan ke bisnis distributor pengangkutan alat komersial.

"Kami optimistis dengan kondisi industri alat berat saat ini dan industri alat pengangkutan saat ini sangat prospektif ke depan," tuturnya.

Menurutnya, kondisi industri alat berat yang prospektif ini memberi peluang ke IBFN menjalani masa pemulihan yang lebih cepat dan sehat ke depan.

Adapun hingga saat ini, saham INTA tercatat masih disuspensi oleh Bursa. Per 31 Oktober 2022, sebanyak 1,31 miliar saham atau setara 39,25 persen saham INTA digenggam oleh publik. Sementara itu, sebanyak 319,5 juta saham IBFN atau setara 21,06 persen saham digenggam oleh publik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper