Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp15.700 Akibat Kebijakan The Fed

Nilai tukar rupiah terpantau melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (16/12/2022), kendati indeks dolar mengalami pelemahan.
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww. rnrn
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww. rnrn

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terpantau melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (16/12/2022), kendati indeks dolar mengalami pelemahan.

Mengutip data Bloomberg, Jumat (16/12/2022), pukul 09.10 WIB, rupiah melemah 7,5 poin atau 0,05 persen ke Rp15.626,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat melemah 0,18 persen ke 104,36.

Bersama dengan rupiah, mata uang dolar Taiwan juga melemah 0,34 persen, won Korea Selatan melemah 0,50 persen, peso Filipina melemah 0,10 persen, rupe India melemah 0,37 persen, yuan China melemah 0,02 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,23 persen.

Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Indonesia Lionel Priyadi mengatakan pelemahan rupiah di antaranya disebabkan oleh pertumbuhan ekspor pada November melambat lebih dari perkiraan seiring dengan mulai munculnya tanda-tanda perlambatan ekonomi global.

Pertumbuhan ekspor Indonesia melambat lebih dari perkiraan di bulan November menjadi hanya 5,6 persen yoy dibandingkan perkiraan di 9,1 persen. Sementara impor turun 1,9 persen yoy dibandingkan perkiraan konsensus naik 7 persen yoy, penurunan pertama dalam 21 bulan terakhir

“Perkembangan ini sejalan dengan skenario ekonomi kami, di mana kami memperkirakan adanya perlambatan di kuartal IV/2022 akibat kenaikan harga BBM pada September,” jelas Lionel dalam riset harian, Jumat (16/12/2022).

Di sisi lain, surplus perdagangan tetap solid di bulan November, mencapai US$5,2 miliar dari konsensus US$4,3 miliar. Karenanya, surplus perdagangan selama 11 bulan naik menjadi US$50,5 miliar, melebihi proyeksi surplus perdagangan 2022 kami sebesar US$50 miliar.

“Meskipun demikian, kami mempertahankan proyeksi surplus neraca berjalan kami di 1,5 persen dari PDB. Meskipun kami masih optimis dengan posisi neraca perdagangan Indonesia, kami tidak melihat kinerja positif neraca dagang dapat menjadi alasan bagi Bank Indonesia untuk mengurangi laju kenaikan suku bunga di masa depan,” imbuh Lionel.

Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga menjadi 6,25 persen pada kuartal I/2023 sebagai tanggapan atas proyeksi ekonomi FOMC yang dirilis pada Rabu (14/12/2022).  FOMC menaikkan perkiraan terminal rate 2023 menjadi 5,175 persen, melebihi ekspektasi pasar 4,875 persen.

“Jika BI memutuskan untuk mengambil sikap yang lebih dovish dengan tidak mengikuti proyeksi kenaikan suku bunga Fed, rupiah berpotensi melemah menjadi Rp16.000 per dolar AS tahun depan,” imbuh Lionel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper