Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

OJK Beberkan Ada 2 BUMN yang Mau IPO Jumbo 2023, Siapakah Dia?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut saat ini terdapat dua pipeline besar untuk initial public offering (IPO) pada perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra - Bisnis.com 06 Desember 2022  |  17:15 WIB
OJK Beberkan Ada 2 BUMN yang Mau IPO Jumbo 2023, Siapakah Dia?
Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mirza Adityaswara (dari kedua kiri ke kanan) bersama dengan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi saat pelantikan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Rabu (19/7/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut saat ini terdapat dua pipeline besar untuk initial public offering (IPO) pada perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Kepala Eksekutif Pengawasan Pasar Modal OJK Inarno Djajadi mengatakan saat ini pihaknya sedang berdiskusi dengan Kementerian BUMN terkait dua pipeline tersebut. Kedua pihak berharap setidaknya ada satu pipeline yang dapat terealisasi pada tahun ini. Sementara satu pipeline kemungkinan dapat teralisasi tahun depan.

"Mudah-mudahan ada satu yang bisa terealisasi pada tahun ini dan satu lagi kemungkinan di tahun depan. Yang lainnya saya belum bisa mengatakan," ujar Inarno dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan November, Selasa (6/12/2022).

Terkait dengan pipeline dari keseluruhan calon emiten, Inarno mengatakan saat ini terdapat 91 perusahaan dengan total dana mencapai Rp96,2 triliun. Selain itu, ada 57 perusahaan yang akan melantai di bursa pada tahun 2023.

OJK sendiri optimistis dapat memperoleh dana sekitar Rp152,7 triliun pada tahun 2023. Dana ini terdiri dari Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS) Rp109,47 triliun, IPO Rp22,1 triliun, dan Penawaran Umum Terbatas (PUT) Rp21,5 triliun.

"Optimis mengingat pipeline cukup banyak," ujar Inarno.

Inarno juga menyinggung terkait kemungkinan perusahaan non Perseroan Terbatas (PT) untuk melantai di bursa. Menurutnya, perusahaan non PT belum bisa diakomodir untuk masuk ke bursa seperti diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. 

Lebih lanjut, Inarno juga menyinggung terkait aturan mengenai auto reject asimetris yang berlaku saat ini. Menurutnya, auto reject asimetris masih cukup relevan untuk dipertahankan untuk mengantisipasi ketidakpastian perekonomian global.

"Kita selalu mereview dan merencanakan untuk membuat kebijakan itu simetris. Namun, secara bertahap sesuai dengan situasi kondisi yang kita hadapi," jelas Inarno.

Sebagai informasi, auto reject adalah pembatasan minimum dan maksimum suatu kenaikan maupun penurunan harga saham dalam jangka waktu satu hari perdagangan di bursa.

Auto reject asimetris adalah batas penolakan sistem perdagangan yang batas kenaikan maksimum saham (batas atas) dan batas penurunan maksimum (batas) bawah tidak sama

Selama pandemi aturan terkait auto reject tidak simetris diberlakukan berdasarkan SK Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor: Kep-00023/BEI/03-2020 perihal Perubahan Batasan Auto Rejection. Adapun keputusan itu telah berlangsung sejak 9 Maret 2020.

Akibat tidak simetris, BEI membatasi auto reject bawah (ARB) maksimal dalam satu hari perdagangan adalah 7 persen. Namun, berbeda dengan auto reject atas (ARA) pada sebuah saham.

PT Bursa Efek Indonesia memberlakukan ARA hingga 35 persen untuk saham untuk rentang harga Rp50 sampai dengan Rp200. Kemudian batas 25 persen untuk rentang harga lebih dari Rp200 sampai dengan Rp5.000. Terakhir ARA hingga 20 persen untuk saham dengan harga di atas Rp5.000.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN OJK ipo arb
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top