Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Vale (INCO) dan Huayou Segera Garap Smelter Pomalaa, Sahamnya Malah Anjlok

Saham Vale Indonesia (INCO) terpantau anjlok 2,02 persen atau 150 poin ke level Rp7.275 pada akhir sesi I perdagangan Senin.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 14 November 2022  |  11:51 WIB
Vale (INCO) dan Huayou Segera Garap Smelter Pomalaa, Sahamnya Malah Anjlok
CEO PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) Febriany bersama Chairman Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited Chen Xuehua (Chairman Chen) dan rombongan mengecek pengerjaan smelter nikel di Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menandatangani perjanjian kerja sama definitif bersama Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd (Huayou) untuk memproses bijih nikel Vale dari Blok Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Kendati demikian, aksi ini belum juga mengangkat harga saham INCO hari ini, Senin (14/11/2022).

Berdasarkan data Bloomberg, pada 11.30 WIB saham INCO terpantau anjlok 2,02 persen atau 150 poin ke level Rp7.275 pada akhir sesi I perdagangan Senin. Sepanjang perdagangan, saham INCO bergerak di kisaran 7.275-7.550. Price to earning ratio (PER) INCO berada di level 21,14 kali dengan kapitalisasi pasar Rp72,92 triliun. 

Sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd) saham INCO masih mengalami kenaikan 52,84 persen. 

Adapun perjanjian definitif INCO dan Huayou ditandatangani pada Minggu (13/11/2022) bersamaan dengan acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) B20/G20 di Nusa Dua, Bali. Proyek Pomalaa merupakan bagian dari komitmen INCO untuk membangun portofolio proyek kelas dunia dan memperkuat penambangan berkelanjutan generasi berikutnya di Indonesia.

“Proyek High-Pressure Acid Leach [HPAL] Blok Pomalaa adalah landasan agenda pengembangan berkelanjutan Vale yang akan memperkuat pembangunan ekonomi dan sosial di tingkat lokal dan nasional menuju masa depan,” kata CEO PT Vale Indonesia Febriany Eddy.

Proyek ini, kata Febri, juga merupakan bukti komitmen Vale terhadap praktik penambangan berkelanjutan yang selaras dengan prioritas B20 untuk memastikan transisi energi yang adil dan teratur.

Proyek HPAL Blok Pomalaa diperkirakan akan menghasilkan hingga 120 kilo ton nikel yang menjadi bagian penting untuk mendukung ekosistem baterai kendaraan listrik.

“Kerja sama kami merupakan kombinasi sempurna antara keunggulan sumber daya mineral Vale dan keunggulan teknologi HPAL Huayou yang canggih untuk mencapai pengembangan sumber daya mineral yang berkelanjutan,” kata Ketua Huayou Chen Xuehua.

Huayou juga akan bekerja sama dengan Vale untuk memastikan pengadopsian dan penerapan praktik-praktik unggulan lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG).

Sebelumnya, Vale menggandeng Huayou untuk proyek di Pomalaa usai proyek tersebut dilepas oleh Sumitomo Metal. Namun, dengan kerja sama baru ini, emiten bersandi saham INCO tersebut dapat meningkatkan kapasitas produksi dari sebelumnya hanya 40 kilo ton.

Selain menggarap smelter nikel di Pomalaa, INCO juga akan bekerja sama dengan Huayou untuk menggarap proyek HPAL nikel di Sorowako dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 60 kilo ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vale indonesia tbk inco Nikel kerja sama
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top