Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Indeks Dolar AS Menguat, Rupiah Jadi Terlemah di Kawasan Asia

Nilai tukar rupiah menjadi yang terlemah di Asia pada hari ini akibat penguatan dolar AS.
Petugas menunjukan uang pecahan Rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). ANTARA FOTO/Muhammad Adimajarn
Petugas menunjukan uang pecahan Rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). ANTARA FOTO/Muhammad Adimajarn

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup melemah akibat dolar AS yang mengalami penguatan pada perdagangan akhir pekan, Jumat (14/10/2022).

Mengutip data Bloombergrupiah ditutup melemah 65,5 poin atau 0,43 persen ke Rp15.427 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau naik 0,26 persen ke 112,65.

Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar di kawasan Asia pada hari ini. Sejumlah mata uang Asia lain yang melemah di antaranya yen Jepang melemah 0,29 persen, dolar Taiwan melemah 0,09 persen, ringgit Malaysia melemah 0,19 persen, dan baht Thailand melemah 0,13 persen.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya risiko pasar seiring dengan inflasi yang tinggi, pertumbuhan upah, kerawanan energi dan pangan.

Sementara itu, perang di Ukraina terus memperburuk keamanan pangan global dan krisis gizi dengan harga energi, makanan, dan pupuk yang tinggi dan tidak stabil, kebijakan perdagangan yang membatasi dan gangguan rantai pasokan.

"Kemudian pengetatan kebijakan moneter global yang lebih cepat dari yang diantisipasi menciptakan ancaman bagi pemulihan ekonomi. Situasi global diprediksi akan tetap sulit di tahun 2022 dan dapat berlanjut  hingga tahun 2023," jelasnya.

Sementara itu, dari luar negeri, nilai dolar AS atuh terhadap sebagian besar mata uang namun masih dalam level tertinggi dalam perdagangan yang bergejolak. Indeks dolar AS sempat melonjak menyusul laporan inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, karena beberapa investor menganggap respons awal pasar terhadap data itu berlebihan.Selain itu, Indeks harga konsumen AS naik 0,4 persen  bulan lalu setelah naik 0,1% pada Agustus, Departemen Tenaga Kerja mengatakan pada hari Kamis. Survei dari Reuters memperkirakan CPI naik 0,2 persen. 

Dalam 12 bulan hingga September, CPI meningkat 8,2 persen setelah naik 8,3 persen pada Agustus, memperkuat ekspektasi bahwa Fed akan memberikan kenaikan suku bunga 75 basis poin (bps).

Untuk perdagangan pekan depan, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif dan ditutup melemah pada rentang  Rp15.410 - Rp15.460.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper