Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Tergelincir Pasca The Fed Siratkan Pengetatan Suku Bunga

Saham-saham Wall Street ditutup melemah setelah data menunjukkan permintaan tenaga kerja AS yang menguat lagi menyiratkan The Fed pertahankan suku bunga tinggi.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA -- Saham-saham Wall Street ditutup melemah setelah data menunjukkan permintaan tenaga kerja AS yang menguat lagi menyiratkan The Fed akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama.

Indeks Dow Jones Industrial Average tergelincir 42,45 poin atau 0,14 persen, menjadi menetap di 30.273,87 poin. Indeks S&P 500 terpangkas 7,65 poin atau 0,20 persen, menjadi ditutup di 3.783,28 poin. Indeks Komposit Nasdaq merosot 27,77 poin atau 0,25 persen, menjadi berakhir di 11.148,64 poin.

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor utilitas dan real estat masing-masing jatuh 2,25 persen dan 1,9 persen, memimpin penurunan. Sementara itu, sektor energi terangkat 2,06 persen, menjadikannya kelompok berkinerja terbaik.

Pergerakan pasar di atas mengikuti pergerakan kuat dua hari di Wall Street yang melihat Dow reli lebih dari 1.500 poin selama dua sesi sebelumnya, didukung oleh harapan pasar bahwa Federal Reserve dapat berputar ke sikap yang kurang agresif lebih cepat dari yang diperkirakan.

Pejabat Fed bersikeras pada pengetatan suku bunga agresif untuk memerangi inflasi, sebuah pesan yang dikhawatirkan pasar akan mengarah pada hard landing ekonomi dan kemungkinan resesi.

The Fed diperkirakan akan memberikan kenaikan suku bunga 75 basis poin keempat berturut-turut ketika pembuat kebijakan bertemu 1-2 November, perkiraan dana berjangka menunjukkan, menurut alat FedWatch CME.

Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan kepada Bloomberg TV dalam sebuah wawancara bahwa inflasi bermasalah dan bank sentral AS akan tetap berada di jalurnya.

Namun, investor juga mencari saham-saham murah di pasar yang tampak oversold. Rasio harga terhadap lab ke depan berada di 15,9 kali, mendekati rata-rata historisnya, turun dari sekitar 22 kali sebelum penurunan besar pasar tahun ini.

"Dengan melawan kembali, bagi saya itu adalah indikator yang menguntungkan bahwa reli ini bisa berjalan," kata Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research di New York seperti dikutip oleh Antara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Pandu Gumilar
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper