Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Widodo Makmur Perkasa (WMPP) Prediksi Bisnis Unggas Jadi Penopang Tahun Ini

Harga pakan unggas di dalam negeri yang lebih mahal dibandingkan dengan 2021 bakal berdampak pada laba tahunan WMPP.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 06 Oktober 2022  |  23:20 WIB
Widodo Makmur Perkasa (WMPP) Prediksi Bisnis Unggas Jadi Penopang Tahun Ini
Widodo Makmur Unggas punya visi menjadi perseroan terbesar di Asia Tenggara dalam penyediaan produk pangan berbasis protein hewani dengan prinsip, tumbuh dan sukses bersama. - Widodo Makmur Unggas
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten holding peternakan PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. (WMPP) meyakini dampak dari pelemahan rupiah terhadap bahan baku impor untuk pakan ternak bisa dikompensasi oleh cakupan operasional WMPP, terutama pada bisnis unggas yang menjadi kontributor utama pendapatan.

Chief Operating Officer Widodo Makmur Perkasa Mega Nurfitriyana pelemahan rupiah berpotensi berdampak pada lini bisnis unggas karena bungkil kedelai (soybean meal) yang merupakan bahan baku pakan dipasok lewat impor.

“Namun kami mengolah sebagian bahan baku pakan unggas secara mandiri sebagai salah satu strategi agar tidak terlalu bergantung dengan bahan baku impor,” kata Mega dalam jawaban tertulis kepada Bisnis, dikutip Kamis (6/10/2022).

Mega juga menyebutkan investasi dalam bidang riset yang didukung oleh tim peneliti WMPP selama bertahun-tahun juga telah membantu Perseroan menjawab tantangan tersebut. Widodo Makmur Perkasa juga memiliki manajemen pengelolaan pakan internal dan eksternal untuk memastikan stok terjaga.

Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa harga pakan unggas di dalam negeri yang lebih mahal dibandingkan dengan 2021 bakal berdampak pada laba tahunan WMPP. Pada semester I/2022, laba bersih periode berjalan WMPP hanya sebesar Rp14,54 miliar atau turun 88,42 persen dibandingkan dengan Rp125,70 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, WMPP juga berbalik membukukan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp3,01 miliar, dari laba sebesar Rp100,62 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kondisi harga pakan unggas nasional yang lebih mahal dibandingkan tahun lalu diproyeksikan akan berdampak kepada laba tahunan Perusahaan. Namun, hal tersebut terkompensasi dari cakupan operasional WMPP yang luas dari sisi downstream maupun upstream,” kata Mega.

Ternak unggas diprediksi masih menyumbang pendapatan terbanyak bagi grup WMPP secara umum hingga akhir 2022. Dari total penjualan neto sebesar Rp2,17 triliun pada kurun Januari—Juni 2022, segmen karkas menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp1,21 triliun atau naik 0,79 persen yoy.

Sementara itu, ternak unggas di segmen ayam umur sehari atau DOC menyumbang Rp42,85 miliar dan ayam broiler komersial Rp13,13 miliar.

Performa WMPP pada paruh pertama 2022 dihadapkan dengan tantangan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak sapi dan kenaikan harga komoditas bahan baku pakan.

Manajemen WMPP melalui keterangan resmi sebelumnya menyebutkan operasional perusahaan yang terintegrasi serta diferensiasi lini bisnis yang luas mendorong performa finansial tetap kuat di tengah tantangan industri peternakan dalam beberapa bulan terakhir.

Kenaikan harga pakan unggas secara nasional yang mendepresiasi laba WMPP dan berdampak pada menurunnya laba perusahaan diprediksi tidak berlangsung lama sejalan dengan upaya stabilisasi harga pakan ternak nasional.

Chief Executive Officer PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. Tumiyana mengatakan lini bisnis unggas WMPP akan tetap berpeluang baik ke depan sejalan dengan peningkatan produktivitas, khususnya penguatan di industri hilir unggas melalui peningkatan jumlah kapasitas produksi RPH.

Pada paruh pertama 2022, lini bisnis ternak sapi menyumbang pendapatan sebanyak 21 persen, unggas 59 persen, pengolahan daging 14 persen, komoditas pertanian 4 persen, dan energi 2 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top