Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Proyeksi IHSG Pekan Depan dan Saham yang Diuntungkan Pelemahan Rupiah

IHSG masih berpeluang naik pekan depan, setelah naik pekan ini meski diimpit sentimen kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah ke Rp15.000 per dolar AS.
Pegawai melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/1/2021). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/1/2021). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi sentimen dua suku bunga yang naik pada pekan ini, tetapi tetap berakhir naik tipis 0,13 persen sepanjang pekan. Bagaimana proyeksinya pekan depan?

IHSG menutup perdagangan turun 0,56 persen ke level 7.178,58 pada Jumat (23/9/2022). Namun, sepanjang pekan, IHSG berhasil naik 0,13 persen.

Head of Research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan yang menjadi sentimen utama pada pekan ini yakni Fed Fund Rate (FFR) atau suku bunga acuan The Fed yang terkonfirmasi naik 75 basis poin (bps). Kenaikan tersebut melegakan karena sempat ada spekulasi perlunya naik 100 bps.

"Yang mengejutkan justru datang dari RDG BI yang malah menetapkan kenaikan suku bunga acuan 50 bps dari pada kenaikan 25 bps seperti yang disurvei," jelasnya kepada Bisnis, Jumat (23/9/2022).

Kenaikan suku bunga BI ini membuat market bergerak sideways relatif bearish pekan ini, sampai harus jebol ke bawah area support 7.200, sehingga penutupan pekan ini masih berjuang membawa balik ke atas level psikologis tersebut.

Dengan IHSG yang menutup pekan ke level 7.178, lanjutnya, masih membuka kemungkinan pasar melanjutkan konsolidasi lagi pekan depan.

"Kita harus benar-benar lebih fokus kepada area support IHSG terdekat berikut di 7.135--7.127 untuk mengantisipasi berlanjutnya penurunan ke arah 7.100 dan 7.000," paparnya.

Sementara itu, arah resistance yang mungkin dituju apabila terjadi usaha technical rebound lagi adalah 7.225, 7.236-7.240, 7.300--7.306, 7.355-7.377.

Liza menyarankan investor untuk hold bahkan lebih perlu mengurangi posisi dan take profit daripada menambah beli.

Menurutnya, rencana hawkish The Fed memperpanjang masa kenaikan suku bunga ini juga menambah kelabu atmosfer pasar karena FFR direvisi naik dari 3,8 persen menjadi 4,4 persen hingga akhir tahun 2022.

Hal tersebut membuat pelaku pasar mulai menebak keputusan yang lebih agresif pada FOMC meeting bulan November dan Desember nanti.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah mulai nyaman bermain di ranah Rp15.000 per dolar AS walau memang harus diakui USD/IDR dalam tren naik, setidaknya sampai Rp15.088-Rp15.100 per dolar AS.

"Jika level ini mampu ditembus, bukan tak mungkin USD masih akan terus alami penguatan sebagai hasil dari trend naik FFR yang masih berkelanjutan, ke arah Rp15.245 atau Rp15.574 per dolar AS," paparnya.

Dia juga menilai dapat mengerti alasan BI tiba-tiba menaikkan suku bunga 7DRRR sebesar 50 bps sebagai antisipasi lonjakan angka inflasi bulan ini yang akan disokong oleh kenaikan harga BBM subsidi 30 persen.

Kenaikan suku bunga tersebut sekaligus upaya mengendalikan nilai tukar rupiah. Di samping itu, Indonesia memiliki tabungan surplus neraca perdagangan yang baik pada Agustus yang cukup lumayan di US$5,7 miliar dibandingkan dengan periode sebelumnya surplus US$4,2 miliar.

Indonesia juga diuntungkan karena karakteristik pasarnya digerakkan oleh komoditas. Alasannya, emiten-emiten terkait ini akan diuntungkan kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

"Jadi, incarlah perusahaan yang mendapat pendapatan dalam mata uang dolar AS, seperti sektor basic materials, agriculture, energy. Namun, trading di saham-saham ini juga perlu perhatikan sentimen harga komoditi globalnya juga yang punya risiko ditekan ekspektasi resesi global," terangnya.

Sebaliknya, NH Korindo Sekuritas menyarankan menghindari emiten-emiten yang memiliki banyak muatan impor, seperti obat-obatan dan manufaktur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper