Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saudi Aramco Cetak Laba Rp712,8 Triliun, Naik 90 Persen

Saudi Aramco mencatat laba sebesar US$48,4 miliar, melonjak 90 persen dari sebelumnya US$25,5 miliar.
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra - Bisnis.com 15 Agustus 2022  |  10:49 WIB
Saudi Aramco Cetak Laba Rp712,8 Triliun, Naik 90 Persen
Saudi Aramco mencatat laba sebesar US48,4 miliar, melonjak 90 persen dari sebelumnya US25,5 miliar. - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen minyak global, Saudi Aramco mencatat laba sebesar US$48,4 miliar atau setara Rp712,79 triliun (kurs Rp14.727) pada kuartal II/2022. Angka tersebut naik 90 persen dari tahun sebelumnya, yakni US$25,5 miliar. Peningkatan tersebut ditunjang oleh harga dan produksi minyak mentah yang meningkat.

Dilansir dari Bloomberg, Aramco juga mencetak dividen sebesar US$18,8 miliar untuk disetor ke pemerintah Arab. Dividen Aramco merupakan salah satu sumber pendapatan yang penting bagi pemerintah Arab.

Chief Executive Officer (CEO) Aramco, Amin Nasser dalam sebuah pernyataan mengatakan harapannya angka permintaan minyak terus bertumbuh hingga akhir dekade ini. Aramco saat ini tengah berada pada posisi yang menguntungkan menyusul meningkatnya harga dan produksi minyak mentah.

Salah satu faktor yang membuat meningkatnya harga minyak mentah adalah pecahnya perang antara Rusia dengan Ukraina sejak akhir Februari tahun ini. Faktor lainnya adalah adanya pemulihan ekonomi global pasca pandemi Covid-19 yang membuat permintaan bahan bakar tinggi.

Sebelumnya diberitakan, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menaikkan prediksi permintaan minyak seiring mahalnya harga gas alam dan peralihan bahan bakar ke minyak untuk mengoperasikan pembangkit listrik.

IEA memprediksi konsumsi minyak dunia akan meningkat menjadi 2,1 juta barel per hari pada tahun ini atau sekitar 2 persen. Angka itu meningkat 380.000 per hari dari prediksi sebelumnya.

Permintaan ekstra yang mendorong revisi tersebut sangat terkonsentrasi di Timur Tengah dan Eropa, sebagai bagian dari sanksi yang dijatuhkan atas invasi Rusia ke Ukraina. Peningkatan tersebut telah mendorong banyak konsumen industri, termasuk penyulingan dan pembangkit listrik, untuk beralih dari gas ke minyak.

"Harga gas alam dan listrik telah melonjak ke rekor baru, mendorong peralihan gas ke minyak di beberapa negara," kata IEA, badan yang memberikan rekomendasi kepada sebagian besar ekonomi utama tentang kebijakan energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten saudi aramco Harga Minyak harga minyak mentah wti
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top