Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saudi Aramco Cetak Laba Rp712,8 Triliun, Naik 90 Persen

Saudi Aramco mencatat laba sebesar US$48,4 miliar, melonjak 90 persen dari sebelumnya US$25,5 miliar.
Saudi Aramco mencatat laba sebesar US$48,4 miliar, melonjak 90 persen dari sebelumnya US$25,5 miliar. /Reuters
Saudi Aramco mencatat laba sebesar US$48,4 miliar, melonjak 90 persen dari sebelumnya US$25,5 miliar. /Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen minyak global, Saudi Aramco mencatat laba sebesar US$48,4 miliar atau setara Rp712,79 triliun (kurs Rp14.727) pada kuartal II/2022. Angka tersebut naik 90 persen dari tahun sebelumnya, yakni US$25,5 miliar. Peningkatan tersebut ditunjang oleh harga dan produksi minyak mentah yang meningkat.

Dilansir dari Bloomberg, Aramco juga mencetak dividen sebesar US$18,8 miliar untuk disetor ke pemerintah Arab. Dividen Aramco merupakan salah satu sumber pendapatan yang penting bagi pemerintah Arab.

Chief Executive Officer (CEO) Aramco, Amin Nasser dalam sebuah pernyataan mengatakan harapannya angka permintaan minyak terus bertumbuh hingga akhir dekade ini. Aramco saat ini tengah berada pada posisi yang menguntungkan menyusul meningkatnya harga dan produksi minyak mentah.

Salah satu faktor yang membuat meningkatnya harga minyak mentah adalah pecahnya perang antara Rusia dengan Ukraina sejak akhir Februari tahun ini. Faktor lainnya adalah adanya pemulihan ekonomi global pasca pandemi Covid-19 yang membuat permintaan bahan bakar tinggi.

Sebelumnya diberitakan, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menaikkan prediksi permintaan minyak seiring mahalnya harga gas alam dan peralihan bahan bakar ke minyak untuk mengoperasikan pembangkit listrik.

IEA memprediksi konsumsi minyak dunia akan meningkat menjadi 2,1 juta barel per hari pada tahun ini atau sekitar 2 persen. Angka itu meningkat 380.000 per hari dari prediksi sebelumnya.

Permintaan ekstra yang mendorong revisi tersebut sangat terkonsentrasi di Timur Tengah dan Eropa, sebagai bagian dari sanksi yang dijatuhkan atas invasi Rusia ke Ukraina. Peningkatan tersebut telah mendorong banyak konsumen industri, termasuk penyulingan dan pembangkit listrik, untuk beralih dari gas ke minyak.

"Harga gas alam dan listrik telah melonjak ke rekor baru, mendorong peralihan gas ke minyak di beberapa negara," kata IEA, badan yang memberikan rekomendasi kepada sebagian besar ekonomi utama tentang kebijakan energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper