Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Emas Melejit 4 Pekan Beruntun, Imbas Meredanya Inflasi AS

Harga emas naik 1,3 persen untuk minggu ini, meraih kenaikan untuk minggu keempat berturut-turut, merupakan kenaikan mingguan terpanjang sejak 31 Desember 2021.
Emas batangan 24 karat ukuran 1oz atau 1 ons, setara 28,34 gram. Harga emas mengalami pergerakan ekstrim pada pekan ini yang mana sempat turun ke level US$1.800 per ons beberapa hari setelah memecahkan rekor harga tertinggi./Bloomberg
Emas batangan 24 karat ukuran 1oz atau 1 ons, setara 28,34 gram. Harga emas mengalami pergerakan ekstrim pada pekan ini yang mana sempat turun ke level US$1.800 per ons beberapa hari setelah memecahkan rekor harga tertinggi./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas reli pada akhir perdagangan Jumat (12/8/2022) waktu New York, berbalik menguat dari kerugian sehari sebelumnya, mempertahankan posisi di atas level psikologis US$1.800 per troy ounce.  

Penguatan emas ditopang oleh pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Mengutip Antara, Sabtu (13/8/2022), kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Desember di Divisi Comex New York Exchange, menguat US$8,30 atau 0,46 persen, menjadi ditutup pada US$1.815,50 per ounce.

Harga emas naik 1,3 persen untuk minggu ini, meraih kenaikan untuk minggu keempat berturut-turut, merupakan kenaikan mingguan terpanjang sejak 31 Desember 2021.

Harga emas berjangka jatuh US$6,5 atau 0,36 persen menjadi US$1.807,20 pada Kamis (11/8/2022), setelah terkerek US$1,40 atau 0,08 persen menjadi US$1.813,70 pada Rabu (10/8/2022), dan terdongkrak US$7,1 atau 0,39 persen menjadi US$1.812,30 pada Selasa (9/8/2022).

Dolar jatuh minggu ini karena data inflasi AS mulai surut, meskipun berbagai pejabat Fed mengatakan perlambatan inflasi Juli tidak akan cukup untuk membuat mereka mudah dengan kenaikan suku bunga.

"The Fed jauh dari menyatakan kemenangan pada inflasi," kata Presiden The Federal Reserve (Fed) Minneapolis Neel Kashkari pada sebuah konferensi minggu ini.

Kashkari mengatakan dia belum melihat apa pun yang mengubah kebutuhan untuk menaikkan suku bunga kebijakan The Fed menjadi 3,9 persen pada akhir tahun dan menjadi 4,4 persen pada akhir 2023.

Presiden The Fed San Francisco Mary Daly, dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, juga memperingatkan terlalu dini bagi bank sentral AS untuk menyatakan kemenangan dalam perjuangannya melawan inflasi.

"Ini akan menjadi ujian yang menarik untuk emas karena level US$1.800 dapat mewakili titik rotasi yang menarik dari perspektif teknis jika tidak ada keinginan untuk melihatnya di atas sini tetapi pada akhirnya kasus untuk emas bullish tetap cukup menarik," kata Analis Platform Perdagangan Daring OANDA, Craig Erlam.

Sementara itu, data awal Agustus Universitas Michigan untuk indeks keseluruhan pada sentimen konsumen datang di 55,1, naik dari 51,5 pada Juli dan di atas perkiraan median ekonom 52,5. Indeks mencapai rekor terendah 50 pada Juni. Data ini menahan kenaikan emas lebih lanjut.

Untuk logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September naik 34,9 sen atau 1,72 persen, menjadi ditutup pada US$20,698 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober tidak berubah dari sesi perdagangan sebelumnya, ditutup pada US$959,4 per ounce.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper