Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Waswas Emiten China Delisting dari Bursa AS, Saham Sinopec hingga Alibaba Anjlok

Saham emiten China yang terdaftar di bursa AS anjlok setelah emiten BUMN China mengumumkan rencana delisting dari Wall Street.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 12 Agustus 2022  |  21:56 WIB
Investor Waswas Emiten China Delisting dari Bursa AS, Saham Sinopec hingga Alibaba Anjlok
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021). - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah saham emiten China yang diperdagangkan di bursa AS melemah pada perdagangan Jumat (12/8/2022) setelah beberapa emiten BUMN China mengumumkan rencana untuk delisting dari Wall Street di tengah ketegangan soal atas audit perusahaan.

Dilansir Bloomberg, saham China Life Insurance Co., PetroChina Co., dan China Petroleum & Chemical Corp. (Sinopec) mencatatkan pelemahan lebih dari 3 persen dan menyeret di antara penurunan terbesar di Nasdaq Golden Dragon China Index melemah 2 persen hari ini.

Ketiga emiten BUMN china tersebut melemah setelah mengungkapkan rencana delisting dari wall Street. Pengumuman mendadak tersebut juga memicu pelemahan saham Alibaba Group Holding Ltd., Pinduoduo Inc. dan JD.com Inc. yang semuanya turun lebih dari 1 persen.

Sekitar 200 perusahaan China, termasuk Alibaba dan Baidu Inc., terdaftar di bursa AS dan kemungkinan akan menghadapi ancaman delisting karena regulator AS tidak dapat memverifikasi audit keuangan mereka.

Analis pasar Saxo Markets Redmond Wong mengatakan BUMN China dianggap dapat memperoleh informasi dan data yang mungkin ragu-ragu diberikan oleh pemerintah China kepada regulator asing.

Raksasa transportasi online China Didi Global Inc. mengumumkan rencana untuk delisting dari New York Stock Exchange pada bulan Desember, di bawah tekanan dari regulator China yang khawatir data perusahaan besar akan terkespos oleh pengaruh asing.

Sementara itu, Alibaba baru-baru ini mengatakan akan melakukan pencatatan saham di papan utama bursa saham Hong Kong.

Direktur investasi GAM Investment Management Jian Shi Cortesi risiko delisting ini telah membebani Amerocan Dopository Receipt (ADR) China, atau kepemilikan saham perusahaan di luar AS.

“Kami memperkirakan lebih banyak perusahaan China secara sukarela delisting dari AS atau memindahkan listing utama mereka ke Hong Kong,” ungkap Jian Shi.

AS dan China telah berselisih selama dua dekade terakhir karena mengizinkan regulator AS mengakses kertas kerja audit perusahaan China dan negosiator belum mencapai kesepakatan.

Kekhawatiran tersebut, serta tindakan keras peraturan terhadap perusahaan teknologi oleh Beijing telah menekan Indeks Nasdaq Golden Dragon, yang turun 66 persen dari level tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada Februari tahun lalu.

Namun, indeks tersebut telah berhasil melambung lebih dari 35 persen dari titik terendah tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alibaba china bursa as
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top