Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Tesla Jual Bitcoin Rp14 Triliun, Misteri Akuntansi dan Siasat Elon Musk

Bagaimana kripto dapat membantu dan menekan laba Tesla sulit untuk diuraikan. Aturan akuntansi saat ini memainkan peran besar.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 25 Juli 2022  |  15:09 WIB
Tesla Jual Bitcoin Rp14 Triliun, Misteri Akuntansi dan Siasat Elon Musk
Founder Tesla Elon Musk - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Tesla Inc. pekan lalu mengungkap penjualan 75 persen kepemilikan Bitcoinnya selama kuartal II/2022 untuk mendapatkan dana tunai US$936 juta atau setara Rp14 triliun. Namun aksi buang Bitcoin ini justru menimbulkan kecurigaan di pasar.

Mengutip Bloomberg, Senin (25/7/2022), CEO Tesla Elon Musk pada pemaparan laba perseroan pekan lalu mengakui aksi jual Bitcoin membantu neraca keuangan perseroan. Namun bagaimana kripto dapat membantu dan menekan laba Tesla sulit untuk diuraikan. Aturan akuntansi saat ini memainkan peran besar.

“Pengungkapan [disclosure] Tesla sangat kabur dan tidak transparan. Sangat sulit untuk menyadari dengan tepat berapa keuntungan yang direalisasikan dan berapa biaya penurunan nilai,” kata Vivian Fang, profesor akuntansi di Carlson School of Management University of Minnesota.

Berdasarkan surat perusahaan ke pemegang saham, penjualan Bitcoin menambahkan US$936 juta tunai ke neraca, tetapi penurunan nilai berdampak pada pendapatan perusahaan. Pos aset digital perusahaan yang tersisa pada 30 Juni bernilai US$218 juta, turun lebih dari satu miliar dolar dari kuartal sebelumnya.

Perusahaan mencatat biaya penyusutan, amortisasi, dan penurunan nilai sebesar US$922 juta, tetapi tidak menjelaskan apa yang terkandung dalam angka itu. Dokumen pemaparan perusahaan yang setebal 30 halaman itu di antaranya berisi sembilan halaman dengan gambar, dan menyebutkan Bitcoin dua kali.

Pada Rabu (20/7/2022), Chief Financial Officer Tesla Zachary Kirkhorn mengatakan kepada para analis bahwa keuntungan yang direalisasikan perusahaan dalam menjual Bitcoin diimbangi dengan biaya penurunan nilai.

“Tesla mendapatkan biaya US$106 juta untuk laba rugi [P&L]. Tesla mencatat biaya dalam item baris pengeluaran, restrukturisasi dan lainnya", kata Kirkhorn.

Surat pemegang saham mencantumkan biaya restrukturisasi sebesar US$ 142 juta, tetapi perusahaan tidak merinci apa lagi yang ada dalam keranjang biaya itu. Surat pemegang saham juga tidak menyebutkan terkait biaya US$106 juta dan Tesla tidak menanggapi permintaan komentar Bloomberg.

Kelangkaan informasi ini meninggalkan pertanyaan yang mungkin tidak dijawab ketika perusahaan melaporan 10-Q atau dokumen yang mencakup lebih banyak detail daripada laporan pendapatan singkat, dalam beberapa hari mendatang.

“Saya ingin melihat pengajuan yang sebenarnya untuk melihat apakah mereka mengungkapkan tanggal penjualan, harga yang mereka jual. Mereka mungkin tidak mengungkapkan semua itu,” kata Aaron Jacob, Head of Accounting Solutios TaxBit, sebuah perusahaan perangkat lunak cryptocurrency.

Tesla tidak dipaksa untuk melakukannya. Tidak ada bagian dari prinsip akuntansi yang diterima secara umum di AS yang menjelaskan bagaimana perusahaan harus memperhitungkan cryptocurrency atau aset digital lainnya, juga tidak mengamanatkan jenis informasi yang harus diungkapkan perusahaan dalam ‘catatan kaki’ akuntansi mereka.

Para perusahaan di sektor bisnis mengikuti panduan dari American Institute of CPA yang mengatakan bahwa mereka yang tidak memenuhi syarat sebagai perusahaan investasi harus memperhitungkan kepemilikan kripto sebagai aset tidak berwujud.

Ini berarti perusahaan mencatat aset digital di neraca mereka dengan biaya historis, dikurangi penurunan nilai selama periode tersebut. Hasilnya adalah bahwa perusahaan hanya bisa mencatat penurunan harga, atau tidak pernah pulih, jika nilainya melambung. Untuk aset digital yang volatil, hampir selalu berarti perusahaan harus mencatat penurunan nilai, bahkan jika itu hanya kerugian di atas kertas.

“Saat ini, FASB [Financial Accounting Standards Board] tidak memiliki aturan pengungkapan. Satu-satunya hal yang kami tahu perusahaan perlu melaporkan biaya apa pun yang mereka miliki, dan jika ada penurunan nilai, mereka harus mengakui biaya penurunan nilai,” kata Vivian Fang.

FASB sedang dalam tahap awal penulisan aturan untuk mengisi kesenjangan panduan aset digital. FASB telah mengajukan ratusan permintaan mengenai aturan yang memungkinkan perusahaan untuk mencerminkan nilai wajar dari kepemilikan kripto mereka, sehingga mereka tidak hanya menangkap posisi terendah, tetapi juga ketika nilai kripto melonjak.

Gangguan akuntansi menurunkan pendapatan bagi perusahaan yang bertaruh besar pada Bitcoin. Perusahaan perangkat lunak MicroStrategy Inc., yang memegang Bitcoin paling banyak dari perusahaan publik mana pun, harus mencatat kerugian jutaan dolar.

MicroStrategy secara sukarela mengungkapkan sekumpulan informasi tentang kepemilikan kriptonya, termasuk harga pembelian rata-rata dan nilai wajar koin selama kuartal tersebut, sebagai suplemen atau tambahan pada dokumen akuntansi resmi.

Sebagai catatan, Tesla pada Februari 2021 mengumumkan bahwa mereka telah membeli kripto senilai US$1,5 miliar dan akan menerima Bitcoin sebagai pembayaran untuk pembelian mobil. Dua bulan kemudian, perusahaan menjual 10 persen sahamnya, menghasilkan US$101 juta dari penjualan. Di sisi lain, Elon Musk selalu menggembar-gemborkan nilai Bitcoin dan cryptocurrency secara umum. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

elon musk Tesla Motors bitcoin cryptocurrency aset kripto

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top