Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Uni Eropa Ubah Sanksi Rusia, Harga Minyak Alami Penurunan

Harga minyak mentah mengalami penurunan pasca Uni Eropa mengubah sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 Juli 2022  |  05:45 WIB
Uni Eropa Ubah Sanksi Rusia, Harga Minyak Alami Penurunan
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat. - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah mengalami penurunan pasca Uni Eropa mengubah sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia.

Harga minyak mentah produksi Amerika Serikat turun di bawah 95 dolar AS per barel pada akhir perdagangan Sabtu pagi WIB untuk pertama kalinya sejak April.

Penurunan harga minyak tersebut setelah Uni Eropa mengatakan akan mengizinkan perusahaan milik negara Rusia untuk mengirimkan minyak ke negara ketiga di bawah penyesuaian sanksi yang disepakati oleh negara-negara anggota minggu ini.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menetap 1,65 dolar AS atau 1,7 persen lebih rendah pada 94,70 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent turun 66 sen atau 0,6 persen, menjadi ditutup di 103,20 dolar AS per barel.

WTI ditutup lebih rendah untuk minggu ketiga berturut-turut, terpukul selama dua sesi terakhir setelah data menunjukkan bahwa permintaan bensin AS telah turun hampir 8,0 persen dari tahun sebelumnya di tengah puncak musim mengemudi musim panas, terpukul oleh rekor harga di SPBU.

Sebaliknya, tanda-tanda permintaan yang kuat di Asia menopang patokan Brent, yang menetap lebih tinggi untuk pertama kalinya dalam enam minggu.

Perdagangan berjangka minyak telah bergejolak dalam beberapa pekan terakhir karena para pedagang mencoba untuk mendamaikan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut yang dapat mengurangi permintaan terhadap pasokan yang ketat dari hilangnya barel Rusia.

Perusahaan milik negara Rusia Rosneft and Gazprom akan dapat mengirimkan minyak ke negara ketiga dalam upaya untuk membatasi risiko terhadap keamanan energi global.

Di bawah penyesuaian sanksi terhadap Rusia yang mulai berlaku pada Jumat (22/7/2022), pembayaran terkait pembelian minyak mentah lintas laut Rusia oleh perusahaan Uni Eropa tidak akan dilarang.

"Jangka pendek yang jelas merupakan berita utama negatif yang mungkin memberi kami sedikit aksi jual di sini," kata Phil Flynn, seorang analis di grup Price Futures dikutip dari Antara.

Pengumuman Uni Eropa datang setelah Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina mengatakan tidak akan memasok minyak mentah ke negara-negara yang memutuskan untuk mengenakan batasan harga pada minyaknya dan sebaliknya mengarahkannya ke negara-negara yang siap untuk "bekerja sama" dengan Rusia.

"Persepsi berkembang bahwa AS dan Uni Eropa akan menerapkan batasan harga pada minyak Rusia pada akhir tahun," kata Dennis Kissler, wakil presiden senior perdagangan di BOK Financial.

Namun, harga tertahan oleh kekhawatiran kenaikan suku bunga yang dapat memangkas permintaan dan dimulainya kembali beberapa produksi minyak mentah Libya.

Produksi minyak Libya lebih dari 800.000 barel per hari (bph) dan akan mencapai 1,2 juta bph bulan depan, kata kementerian perminyakan Libya.

Irak memiliki kapasitas untuk meningkatkan produksi minyaknya sebesar 200.000 barel per hari tahun ini jika diminta, kata seorang eksekutif Basra Oil Co Irak.

 

Rig minyak AS, indikator awal produksi masa depan, tetap stabil di 599 minggu ini, menurut data dari perusahaan jasa energi Baker Hughes.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak mentah wti uni eropa Rusia
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top