Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PAM Mineral NICL Genjot Produksi Nikel 2022, Tangkap Prospek Baterai EV

PAM Mineral (NICL) berencana meningkatkan produksi nikel sampai dengan 1,5 juta ton sepanjang 2022
Emiten pertambangan nikel PT PAM Mineral Tbk. (NICL) resmi melakukan pencatatan saham perdana pada Jumat (9/7/2021). PAM Mineral (NICL) berencana meningkatkan produksi nikel sampai dengan 1,5 juta ton sepanjang 2022.
Emiten pertambangan nikel PT PAM Mineral Tbk. (NICL) resmi melakukan pencatatan saham perdana pada Jumat (9/7/2021). PAM Mineral (NICL) berencana meningkatkan produksi nikel sampai dengan 1,5 juta ton sepanjang 2022.

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pertambangan nikel PT PAM Mineral Tbk (NICL) akan meningkatkan kegiatan eksplorasi dan produksi tahun ini hingga 1,5 juta ton

Langkah ini seiring dengan pertumbuhan kinerja perusahaan dan tingginya kebutuhan nikel, terutama untuk industri manufaktur, konstruksi, dan bahan baku produksi baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

PAM Mineral akan menggenjot produksi dan eksplorasi untuk menambah inventory atau cadangan yang berkelanjutan, dengan total target penjualan 1,5 juta ton bijih nikel, naik dari target 2021 sebanyak 1,3 juta ton.

Target tahun ini terdiri atas 900.000 ton bijih nikel kadar tinggi (high grade, kandungan 1,5-1,75 persen Ni) dan 600.000 ton bijih nikel kadar rendah (low grade, kandungan di bawah 1,5 persen Ni). Khusus untuk kategori high grade hasil produksi NICL berhasil terjual habis sesuai dengan kontrak dengan pelanggan.

Pada 2024, guna memperluas jangkauan pemasaran dan ikut menghasilkan Mix Hydroxide Precipitate/MHP (bahan baku pembuatan katoda baterai), NICL juga menargetkan penjualan 920.000 ton bijih nikel kadar tinggi.

Direktur Utama PAM Mineral Ruddy Tjanaka mengatakan kebutuhan nikel mulai intensif dalam perkembangan industri hulu-hilir saat ini.

“Kondisi ini membuat kami lebih optimistis ke depan ini akan ada nikel beserta turunannya yang akan menjadi salah satu primadona dari penggerak ekonomi Indonesia,” kata Ruddy usai Paparan Publik setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Rabu (6/7/2022).

Dalam jangka panjang, kata Ruddy, prospek industri pertambangan dan produksi nikel akan positif lantaran tingginya kebutuhan nikel.

Adapun, saat ini produksi NICL berasal dari dua entitas, yaitu dari pertambangan NICL sendiri dan PT Indrabakti Mustika (IBM), anak usaha NICL dengan kepemilikan langsung NICL 99,05 persen saham.

Menurut Ruddy, prospek bisnis NICL akan ditopang oleh prospek tingginya permintaan bijih nikel kadar tinggi, terutama karena industri pengolahan (smelter).

Hadirnya industri baterai nasional, seiring tumbuhnya smelter dengan teknologi hydrometalurgi, juga akan mendorong kinerja NICL dengan diserapnya nikel kadar rendah.

Apalagi, menurut riset BloombergNEF, adopsi kendaraan listrik akan tumbuh dalam jangka panjang. Data Badan Energi Internasional (IEA) juga mengungkapkan EV menyumbang 2 persen lebih dari penjualan mobil global dan akan menjadi 58 perse di 2040.

Data terbaru Ev-volume.com mencatat, hingga Desember 2021, penjualan EV tembus 6,75 juta unit, naik 118 persen dari 2020 hanya 3,1 juta unit.

“Ini mengindikasi adanya peningkatan permintaan nikel untuk komponen baterai Nickel Metal Hydride untuk mengoperasikan kendaraan listrik,” kata Ruddy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper