Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Dari Resep Emiten Farmasi dan Rumah Sakit Hingga Kepul Laba GGRM & HMSP Menipis

Tak bisa dimungkiri, dengan masuknya Indonesia pada masa endemi, dapat dikatakan produk dan bisnis terkait dengan Covid-19 sudah tidak relevan lagi untuk dikembangkan sejumlah emiten farmasi dan rumah sakit.
Nurbaiti
Nurbaiti - Bisnis.com 06 Juni 2022  |  17:09 WIB
Top 5 News Bisnisindonesia.id: Dari Resep Emiten Farmasi dan Rumah Sakit Hingga Kepul Laba GGRM & HMSP Menipis
Seorang petugas di Apotik Kimia Farma sedang melihat persediaan barang yang dijual di etalase. - Kimia Farma
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Indonesia bersiap melakukan transisi dari pandemi Covid-19 menjadi endemi, seiring dengan turunnya kasus harian Covid-19.

Meski begitu, kinerja emiten-emiten sektor kesehatan dinilai masih menarik. Beberapa strategi juga telah disiapkan oleh emiten farmasi hingga rumah sakit memasuki status transisi endemi.

Misalnya saja, emiten farmasi, PT Indofarma Tbk. (INAF) tengah bersiap meluncurkan strategi memasuki masa endemi. Emiten farmasi pelat merah ini akan mendorong penjualan alat kesehatan dengan berbagai mekanisme seperti skema trading melalui anak usaha PT Indofarma Global Medika, original equipment manufacturer (OEM), hingga manufaktur.

Tak bisa dimungkiri, dengan masuknya Indonesia pada masa endemi, dapat dikatakan produk dan bisnis terkait dengan Covid-19 sudah tidak relevan lagi untuk dikembangkan sejumlah emiten farmasi dan rumah sakit.

Di sisi lain, pemerintah bersama dengan PT Bio Farma (Persero), induk dari dua emiten farmasi, PT Indofarma Tbk. (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk. (KAEF), berambisi menurunkan impor bahan baku obat (BBO) hingga 20 persen dalam 4 tahun ke depan.

Ulasan tentang strategi yang akan disiapkan emiten sektor kesehatan dalam memasuki masa transisi pandemi menuju endemi menjadi salah satu pilihan Bisnisindonesia.id, selain beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik tersaji dari meja redaksi Bisnisindonesia.id.

Berikut intisari dari top 5 News Bisnisindonesia.id yang menjadi pilihan editor, Senin (6/6/2022):

 

1. Menangkal Panas Arab Saudi di Musim Haji

Jemaah haji asal Indonesia harus mempersiapkan kondisi diri selama ibadah haji tahun ini. Sebab, pelaksanaan rukun Islam kelima tersebut bakal dilaksanakan di tengah musim panas yang akan dialami Arab Saudi.

Musim panas di Saudi memang berlangsung mulai 14 Mei hingga 24 September 2022. Sementara ibadah haji berlangsung mulai Mei hingga Juni. Artinya, jutaan jemaah akan menghadapi cobaan berat selama ibadah yakni cuaca panas.

Weatherspark mencatat suhu tertinggi harian rata-rata di Riyadh berada di atas 39 derajat celcius, sedangkan bulan paling panas dalam setahun terhadi sepanjang Juli 2022 dengan rerata suhu tertinggi 43 derajat celcius.

Kondisi ini pula yang membuat pemerintah berulangkali mengingatkan jemaah Indonesia untuk bersiap menghadapi cuaca ekstrem.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta jemaah haji Indonesia untuk menjaga kesehatan karena cuaca panas di Saudi. Menag bahkan mengimbai jemaah untuk membatasi kegiatan di luar ibadah agar tetap prima serta seluruh rukun dan syarat haji dapat diselesaikan.

 

2. Intip Resep Emiten Farmasi & Rumah Sakit di Fase Transisi Endemi

Saat ini kontribusi penjualan produk kesehatan terkait dengan Covid-19, baik dari kategori obat maupun alat kesehatan ke kinerja perseroan sangat kecil. Penjualan alat kesehatan terkait dengan Covid-19 yang masih ada saat ini seperti produk reagen IVD dan Masker.

Namun demikian, menurut Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya, terjadinya pandemi Covid-19 meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Di sisi lain, saat pandemi justru menghambat masyarakat untuk berobat.

Kendati demikian, analis BCA Sekuritas Achmad Yaki Yamani menilai emiten-emiten rumah sakit masih berpotensi memiliki kinerja yang baik saat endemi. Hanya saja, pertumbuhan kinerja emiten-emiten rumah sakit tidak akan sebaik tahun-tahun sebelumnya.

Selain emiten rumah sakit, Yaki juga melihat, kinerja emiten farmasi dan healthcare masih akan mengalami peningkatan dari penjualan suplemen vitamin. Yaki melihat emiten farmasi akan menghadapi tantangan dari kebijakan pemerintah yang menargetkan 50 persen bahan baku obat dari dalam negeri.

 

3. Kepul Laba GGRM & HMSP Menipis, Sahamnya Masih Menarik?

Kuatnya dampak kenaikan tarif cukai rokok tahun ini tak mampu dibendung oleh duo emiten rokok besar Tanah Air, PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk. (GGRM). Laba keduanya kembali turun pada kuartal pertama tahun ini. Menariknya, sahamnya justru menghijau.

HMSP membukukan penjualan sebesar Rp26,1 triliun pada kuartal I/2022. Penjualan ini meningkat 11,05 persen secara tahunan (year-on-year/ YoY) atau jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp23,5 triliun.

Sayangnya, meningkatnya kinerja penjualan HMSP juga turut diikuti oleh kenaikan beban pokok penjualan perseroan 18,25 persen menjadi Rp21,9 miliar, dari Rp18,5 miliar secara YoY. Dengan meningkatnya beban tersebut, laba kotor perseroan turun 15,43 persen menjadi Rp4,26 triliun, dari Rp5,03 triliun secara YoY.

Begitu pula dengan emiten rokok asal Kediri, Jawa Timur, Gudang Garam. Emiten berkode saham GGRM ini mencetak pendapatan Rp29,29 triliun pada kuartal I/2022. Pendapatan ini turun 1,53 persen YoY dibandingkan kuartal I/2021 sebesar Rp29,74 triliun.

 

4. Cadangan Devisa Diprediksi Menurun, Ekonomi Indonesia Memburuk?

Tren penurunan cadangan devisa Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut. Tekanan terhadap rupiah, kondisi likuiditas valuta asing di dalam negeri, serta kinerja impor menjadi kombinasi yang dapat menurunkan jumlah cadangan devisa Indonesia.

Kepala Ekonom Bank BCA David Sumual memperkirakan posisi cadangan devisa Indonesia pada Mei 2022 akan berada pada kisaran US$132 miliar hingga US$137 miliar.

Kondisi cadangan devisa pada periode tersebut mengalami tekanan yang kuat, sejalan dengan nilai tukar rupiah yang sempat melemah, meski telah kembali mendekati level Rp14.400 pada pekan ini.

Di samping itu, perkembangan posisi cadangan devisa Mei 2022 juga dipengaruhi oleh likuiditas valas di dalam negeri yang mengalami penurunan akibat keluarnya aliran modal asing dari pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Kinerja impor yang mengalami peningkatan sejalan dengan berlangsungnya pemulihan ekonomi domestik mengerek naiknya permintaan valas, sehingga turut mempengaruhi posisi cadangan devisa Mei 2022.

 

5. Meneropong Prospek Bisnis Ruas Jalan Tol Baru yang Dibidik BUJT

Bisnis jalan tol terbilang menjanjikan. Selain mengoperasikan jalan tol saat ini yang sudah ada, para Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) membidik rencana pembangunan jalan tol baru.

PT Jasa Marga Tbk., salah satunya, tengah mengincar untuk mendapatkan hak pengusahaan baru untuk tiga ruas jalan tol yang akan dimulai proses lelang oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Saat ini, perseroan tengah fokus untuk menyelesaikan konstruksi jalan tol yang telah dimiliki hak konsesinya agar dapat beroperasi sesuai dengan target yang direncanakan.

Di samping itu, pada tahun ini Jasa Marga bersama konsorsium sedang dalam tahap persiapan proses lelang yakni tahap penawaran mulai dari mempersiapkan dokumen administrasi hingga dokumen teknis untuk jalan Tol Sentul Selatan – Karawang Barat.

Selain itu, Jasa Marga juga menargetkan untuk dapat memperoleh hak pengusahaan jalan Tol Akses Patimban dimana Jasa Marga bersama konsorsium sebagai single bidder saat ini telah menyampaikan proposal penawaran kepada Panitia Lelang BPJT Kementerian PUPR.

Emiten berkode JSMR ini mencatatkan volume lalu lintas (VLL) pada jalan tol Jasa Marga Group adalah sebanyak 3,17 juta kendaraan, naik sebesar 12,8 persen dibandingkan dengan kuartal I tahun 2021. Adapun VLL tertinggi tercatat di ruas jalan Tol Jakarta – Cikampek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emiten farmasi ggrm

Sumber : Bisnisindonesia.id

Editor : Nurbaiti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top