Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pinnacle Investama Bidik Jumlah Investor Ritel Naik 20 Persen, Begini Strateginya

Pinnacle Persada Investama mencatatkan kenaikan sekitar 15 persen sepanjang tahun ini yang didominasi oleh investor ritel yang berinvestasi melalui berbagai platform Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD).
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 24 Mei 2022  |  13:18 WIB
President dan CEO PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra (tengah) memberikan penjelasan pada konferensi pers peluncuran Pinnacle FTSE  Indonesia ETF (XPFT), di Jakarta, Senin (10/9/2018). - JIBI/Dedi Gunawan
President dan CEO PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra (tengah) memberikan penjelasan pada konferensi pers peluncuran Pinnacle FTSE Indonesia ETF (XPFT), di Jakarta, Senin (10/9/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pemulihan ekonomi yang ditandai dengan mulai longgarnya protokol kesehatan di Tanah Air dipercaya bisa menjadi katalis positif bagi kinerja reksa dana. Namun di sisi lain, reksa dana juga ikut menghadapi volatilitas pasar yang tinggi belakangan ini. 

Direktur Utama Pinnacle Persada Investama Guntur Surya Putra mengungkapkan bahwa mulai longgarnya protokol kesehatan (prokes) dari pemerintah, menjadi salah satu faktor katalis positif untuk pasar.

Sepanjang tahun ini, Guntur mengungkapkan bahwa dari sisi jumlah investor, Pinnacle Persada Investama mencatatkan kenaikan sekitar 15 persen sepanjang tahun ini yang didominasi oleh investor ritel yang berinvestasi melalui berbagai platform Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD).

"Tetapi perlu dicermati juga kondisi makro perekonomian global dan pergerakan pasar yang volatilitasnya cukup tinggi, terutama dalam beberapa minggu terakhir terkait dengan risiko inflasi dan resesi global,” jelas Guntur kepada Bisnis, Senin (23/5/2022).

Oleh karena itu, Guntur menjelaskan bahwa Pinnacle sangat memperhatikan kondisi makro, terutama terkait inflasi dan kemungkinan terjadinya resesi global.

Dia menjelaskan, Pinnacle salah satunya memonitor secara detail pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, terlebih dalam beberapa waktu lalu kondisi rupiah sempat tertekan ke level Rp14.600 per dolar AS.

Selain itu, perusahaannya juga memonitor pergerakan imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun serta juga mengikuti kondisi makro Indonesia termasuk Balance of Payment.

Melalui berbagai sentimen tersebut, Guntur pun berharap di tahun ini jumlah investor masih akan terus tumbuh.

“Kami berharap dari sisi pertumbuhan investor masih dapat meningkat sekitar 15-20 persen, khususnya investor ritel dari jalur distribusi platform APERD digital,” ungkapnya.

Agar target itu tercapai, Pinnacle ungkapnya akan tetap fokus untuk mempertahankan kinerja reksa dana di beberapa produk unggulannya. Kemudian juga memaksimalkan tingkat likuiditas untuk mengantisipasi potensi risiko pasar yang ada.

Guntur menyampaikan, Pinnacle menerapkan strategi yang harus dapat beradaptasi dengan kondisi pasar.

“Kebetulan di Pinnacle strategi investasinya banyak yang menerapkan kuantitatif dan juga data driven investing, jadi secara sistematis konsistensi kinerja dapat terjaga seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi,” tutup Guntur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manajer investasi reksa dana investasi reksa dana
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top