Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Grup Bakrie, BUMI Incar Produksi Batu Bara 89 Juta Ton pada 2022

BUMI menargetkan produksi batu bara pada 2022 di kisaran 81 juta-89 juta ton.
Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Adika Nugraha Bakrie/Istimewa
Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Adika Nugraha Bakrie/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten batu bara Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menargetkan produksi batu bara mencapai 89 juta ton pada 2022, naik dari realisasi produksi pada 2021 sejumlah 78,8 juta ton.

Direktur & Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava menyampaikan BUMI menargetkan produksi batu bara pada 2022 di kisaran 81 juta-89 juta ton. Kontribusi tersebut berasal dari anak usahanya, PT Kaltim Prima Coal (KPC) 57 juta-59 juta ton dan dan PT Arutmin Indonesia (AI) 26 juta-29 ton.

"Dengan kembalinya optimisme sektor, dan tren kenaikan harga batubara, Bumi Resources berharap dapat meningkatkan kinerja yang signifikan di 2022," paparnya dalam siaran pers, Jumat (29/4/2022).

Di sisi lain, BUMI mencatatkan rekor pendapatan tertinggi pada 2021 senilai US$5,42 miliar. Pendapatan BUMI naik 47 persen year on year (yoy) dari sebelumnya US$3,68 miliar.

"Peningkatan pendapatan BUMI mencapai rekor tertinggi ditopang kenaikan harga penjualan batu bara," imbuhnya.

Pada 2021, BUMI melakukan penjualan 79 juta batu bara, turun 3 persen yoy dari 81,5 juta ton pada 2020. Perincian penjualan 2021 yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC) 56,9 juta dan dan PT Arutmin Indonesia (AI) 22,2 juta ton.

Kendati volume menurun, harga penjualan meningkat sehingga mendorong pendapatan BUMI. Realisasi harga batu bara pada 2021 mencapai US$67,4 per ton, naik 52 persen yoy dari US$44,2 per ton pada 2020.

Dari sisi produksi, Bumi Resources menghasilkan 78,8 juta ton pada 2021, menurun dari 81,1 juta ton pada 2020. BUMI juga menurunkan inventory menjadi 1,5 juta ton dari sebelumnya 2,2 juta ton untuk mengoptimalkan modal kerja.

Moncernya kinerja top line turut menopang sisi bottom line. BUMI meraih laba bersih US$168 juta pada 2021, berbalik dari rugi bersih US$338 juta pada 2020.

Dileep menyampaikan dampak pandemi Covid-19 sangat bepengaruh pada kinerja sektor di tahun 2021. Namun, sinyal pemulihan di bisnis batu bara mulai terlihat dan berlanjut pada kuartal I/2022.

Berlanjutnya fenomena La Nina sejak kuartal IV/2021 (prakiraan hingga Mei 2022) berdampak pada output. Konflik yang terjadi di Eropa Timur, dan kesulitan menghadirkan kemampuan energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar fosil, seperti batu bara, harga gas yang tidak terjangkau memperlebar kesenjangan pasokan dengan meningkatnya permintaan batu bara.

"Ini juga dapat membuat harga batu bara tetap tinggi tahun ini dan berikutnya," imbuh Dileep.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hafiyyan
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper