Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Dibuka Melemah, Asing Lego Saham BBCA, BMRI, dan TLKM

IHSG terkoreksi 9,93 poin atau turun 0,14 persen di level 6.986,1 seiring dengan aksi jual investor asing.
Pengunjung beraktivitas di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/2/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung beraktivitas di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/2/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (24/3/2022). Investor asing terpantau melakukan aksi jual pada pembukaan perdagangan.

Pukul 09.00 WIB, IHSG terkoreksi 9,93 poin atau turun 0,14 persen di level 6.986,1. Sebanyak 198 saham menguat, 93 melemah, dan 210 saham tidak bergerak. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.999,03 pada awal perdagangan.

Asing tercatat melakukan aksi net foreign sell di semua pasar pada awal perdagangan. Saham yang paling banyak dilego adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp41,11 miliar.

Kemudian saham PT Bank Mandiri Persero Tbk (BMRI) sebesar Rp2,97 miliar. Asing juga melakukan aksi net foreign sell pada saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp2,41 miliar.

Sementara itu, saham yang paling banyak diincar asing di antaranya adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp9,36 miliar dan saham PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar Rp7,59 miliar.

Direktur MNC Asset Management Edwin Sebayang menjelaskan menguatnya harga beberapa komoditas seperti batu bara yang naik 8,13 persen, minyak 2,74 persen, emas, 1,18 persen, CPO 3,51 persen, dan nikel naik 14,4 persen membuka peluang penguatan saham berbasis komoditas tersebut.

"Jika kenaikan harga saham berbasis komoditas tersebut lebih kuat daya dorongnya ketimbang tekanan jual yang terjadi atas saham di sektor lain membuka peluang IHSG rebound di perdagangan Kamis ini," terangnya dalam riset, Kamis (24/3/2022).

Di lain pihak, tekanan jual berpeluang terjadi atas saham di sektor lainnya menyusul aksi jual cukup besar di Wall Street mengakibatkan Indeks DJIA turun cukup tajam sebesar 1,19 persen sebagai dampak naiknya harga minyak mentah mendekati level US$115.

Kenaikan harga komoditas minyak dan batu bara tersebut juga berpotensi membuat pemerintah Indonesia menaikkan tarif dasar listrik (TDL) dan BBM jenis Pertamax.

"Ke depannya bahkan jika harga WTI Crude Oil naik melebihi US$130, bukan mustahil harga BBM jenis Pertalite juga bisa dinaikkan padahal 50 persen konsumsi BBM nasional menggunakan Pertalite," katanya.

Dampak lanjutannya, sudah bisa diperkirakan harga barang kebutuhan pokok akan ikut terdongkrak naik yang pada akhirnya akan mendongkrak naik inflasi.

Itupun belum memasukan faktor harga-harga barang akan naik menjelang dan selama bulan Puasa serta Hari Raya.

Dengan demikian, dia memproyeksikan IHSG masih mungkin rebound memanfaatkan kenaikan saham komoditas di tengah tekanan jual.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper