Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Anak Usaha BUMI, KPC, Beri Penjelasan Soal Banjir Sangatta

Mencermati isu negatif tentang operasional KPC yang dikaitkan dengan banjir Sangatta, maka anak usaha Bumi Resources itu meluruskan beberapa hal.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 24 Maret 2022  |  16:35 WIB
Kondisi Kolam (Pond) Pit J saat Banjir terjadi pada tanggal 19 Maret 2022. Sumber: Kaltim Prima Coal (KPC).
Kondisi Kolam (Pond) Pit J saat Banjir terjadi pada tanggal 19 Maret 2022. Sumber: Kaltim Prima Coal (KPC).

Bisnis.com, JAKARTA - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Kaltim Prima Coal (KPC), mengonfirmasi soal informasi banjir Sangatta yang dikaitkan dengan operasional perusahaan.

GM External Affairs and Sustainable Development PT Kaltim Prima Coal Wawan Setiawan menyampaikan mencermati isu negatif tentang operasional KPC yang dikaitkan dengan banjir Sangatta, maka perusahaan perlu meluruskan beberapa hal.

"Pertama, KPC memastikan, pengelolaan air tambang masih sesuai aturan yang dipersyaratkan, baik baku mutu kualitas air maupun debit air keluaran menuju sungai sebagai badan penerima," paparnya dalam keterangan resmi, Kamis (24/3/2022).

Hal ini telah dicek secara langsung oleh DLH Kutai Timur dan telah diambil sampel di titik penaatan kolam tambang KPC untuk uji laboratorium. Demikian juga dengan debit air yang keluar menuju sungai Sangatta, masih di bawah standar, seperti Kolam PSS Bendili debit maksimal yang boleh keluar adalah 10,56 m3/detik.

Namun, pada saat banjir tanggal 19-20 Maret 2022, debit yang keluar hanya 5,05 m2/detik. Di kolam J Void, debit yang keluar sebanyak 6,12 m3/detik dari 15,6 m3/detik yang diperbolehkan.

Kedua, catchment area tambang KPC, hanya menyumbang 6,06 persen dari total luas DAS Sangatta, sehingga kontribusi untuk pembentukan volume air dari wilayah terganggu KPC ke sungai Sangatta juga tergolong kecil.

Seluruh area tangkapan air di tambang KPC tertampung di kolam-kolam pengendap berizin dan dilakukan treatment kualitas dan kuantitas airnya.

"Untuk DAS Sangatta, ada tujuh kolam yang seluruh baku mutu, kualitas air dan debitnya memenuhi baku mutu ijin kolam; yaitu Kolam Marsawa, Cempaka, PSS, Melawai 2, WQ27D, WQ27F, WQ33. Semua kolam ini berjalan normal saat banjir terjadi dan tidak ada yang jebol bangunan airnya seperti isu yang berkembang di media sosial," jelas Wawan.

Ketiga, pada tanggal 18-20 Maret 2022, ada dua kondisi yang memicu banjir besar, di DAS Sangatta, yakni curah hujan yang sangat tinggi mencapai 167 mm/hari dengan air pasang yang naik mencapai lebih dari 2,5 meter.

Hal ini membuat air hujan yang deras tidak dapat mengalir ke laut dan membanjiri sepanjang sempadan sungai Sangatta. Pantauan KPC di outlet PSS Bendili, justru air dari arah sungai Sangatta masuk ke sungai Bendili dan tertahan lama tidak mengalir keluar sehingga volume lebih besar dari biasanya.

Keempat, anggapan bahwa luas area bukaan KPC sangat mungkin meningkatkan volume air menuju sungai dan menyebabkan banjir saat hujan terjadi tidaklah benar.

KPC meluruskan bahwa, seluruh air hujan yang jatuh ke area terbuka KPC telah ditampung di kolam-kolam pengendap dan dikontrol baik kualitas maupun kuantitas airnya.

Selain melakukan pengelolaan air tambang, KPC juga melakukan reklamasi lahan bekas tambang secara progresif. Dari 32,542 hektar lahan yang ditambang, sebanyak 13,267 hektar (40,77%) telah direklamasi kembali. Sejak tahun 2014 luasan target reklamasi KPC selalu di atas 1000 hektar.

Kelima, karyawan KPC dan kontraktornya saat ini berjumlah 27.000 lebih dan jika ditambah keluarga, maka totalnya sekitar 81.000 jiwa.

"Mayoritas karyawan tinggal di Sangatta dan Bengalon, yang mana kami juga mengkonsumsi air Sungai Sangatta dan Bengalon. Untuk itu kami menjaga kualitas air Sangatta dan Bengalon seperti halnya menjaga keluarga dan diri kami sendiri," imbuh Wawan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

banjir batu bara bumi resources Grup Bakrie
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top