Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Indeks SMC Liquid Negatif, Saham Logam jadi Jagoan Analis

Kinerja indeks Small Medium Cap (SMC) Liquid tercatat masih mengalami pelemahan sejak awal tahun hingga saat ini, tetapi analis melihat masih terdapat peluang berinvestasi.
Pengunjung beraktivitas di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/2/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung beraktivitas di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/2/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja indeks Small Medium Cap (SMC) Liquid tercatat masih mengalami pelemahan sejak awal tahun hingga saat ini, tetapi analis melihat masih terdapat peluang berinvestasi.

Sebagai informasi indeks SMC adalah salah satu dari indeks BEI yang berisikan saham-saham kapitalisasi pasar kecil dan menengah. Selama tahun berjalan, indeks itu telah turun 1,22 persen. Meski masih berkinerja negatif, analis melihat terdapat peluang berinvestasi pada indeks ini.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya melihat, beberapa sektor dalam konstituen SMC Liquid masih menarik untuk dicermati, seperti saham di sektor metal dan energi.

"Memang hari ini saham-saham tersebut terkoreksi. Namun, masih prospektif untuk jangka pendek dengan return 5-10 persen," ujar Cheryl kepada Bisnis, Selasa (8/3/2022).

Menurutnya, saham-saham dalam sektor tersebut yang menarik untuk dicermati adalah PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), PT Harum Energy Tbk. (HRUM), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP), PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), dan PT Timah Tbk. (TINS).

Terpisah, Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis Setyo Wibowo menuturkan, pihaknya merekomendasikan investor untuk memperhatikan beberapa saham komoditas.

"Terlebih seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang memiliki bobot yang besar dalam indeks ini," kata Azis, Selasa (8/3/2022).

Menurutnya, beberapa saham komoditas masih akan terdorong dengan adanya tensi Rusia-Ukraina, terlebih bagi sektor logam dan mineral seperti ANTM dan INCO. Azis menilai konflik Rusia-Ukraina akan membuat persediaan logam dan mineral menurun, dan akan membuat harga nikel terus naik.

"Kami rekomendasi trading buy untuk saham-saham yang berada di sektor komoditas, perunggasan, dan properti," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper