Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Arifin Panigoro Meninggal, Ini Jejak Bisnis Medco Energi (MEDC)

Arifin Panigoro dikenal sebagai pendiri dan pemilik MedcoEnergi yaitu perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi swasta terbesar di Indonesia. Berikut ini jejak perusahaan yang dibesarkannya.
Arifin Panigoro. Bisnis/Nurul Hidayat
Arifin Panigoro. Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Kabar duka kembali menyelimuti dunia bisnis Indonesia, salah satu pengusaha kawakan, Arifin Panigoro meninggal dunia, Minggu (27/2/2022), waktu Amerika Serikat.

Dia merupakan pendiri sekaligus orang yang membesarkan salah satu perusahaan energi terbesar di Indonesia, yakni PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC),

Arifin Panigoro lahir pada 14 Maret 1945 dan wafat pada 27 Februari 2022. Dia adalah seorang pengusaha Indonesia berdarah Gorontalo yang dijuluki "Raja Minyak Indonesia".

Arifin Panigoro dikenal sebagai pendiri dan pemilik MedcoEnergi yaitu perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi swasta terbesar di Indonesia.

Alumni Elektro Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1973 ini memulai usahanya sebagai kontraktor instalasi listrik door to door. Selanjutnya, dia memulai proyek pemasangan pipa secara kecil-kecilan. Medco kemudian dikenal saat memulai usaha pengeboran minyak tahun 1981 yang salah satu modalnya dari bantuan pemerintah.

Salah satu tonggak sejarah Medco ialah ketika melakukan pembelian Stanvac yang dimenangkan melalui tender yang kemudian namanya diubah menjadi Expan. Dengan pembelian itu, PT Stanvac tidak lagi dikuasai orang asing sebab perusahaan minyak tertua di Indonesia itu sudah dimiliki sepenuhnya oleh Medco.

Wafatnya Arifin meninggalkan duka bagi keluarga besar Medco Energi, jika membuka situs medcoenergi.com, Anda akan langsung diberikan halaman muka ucapan duka cita atas pendiri dari Grup Medco tersebut.

"It is with heavy heart that we announce the passing of our Company's Founder. He was a prominent and visionary figure of inspiration to us and to the Company. Not only he was passionate in what he did, he was also a dedicated man of honor to the nation and the country. May his legacy always live in the Company's soul and activities," tulis manajemen di situs medcoenergi.com, dikutip Senin (28/2/2022).

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi sebagai berikut: "Dengan berat hati kami mengumumkan meninggalnya Pendiri Perusahaan kami. Beliau adalah sosok inspirasi terkemuka dan visioner bagi kami dan Perusahaan. Tidak hanya dia bersemangat dalam apa yang dia lakukan, dia juga seorang pria terhormat yang berdedikasi untuk bangsa dan negara. Semoga warisannya selalu hidup dalam jiwa dan aktivitas Perusahaan."

Adapun, secara sejarah, Medco menjadi salah satu perusahaan tertua yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdiri pada 9 Juni 1980, dengan nama Meta Epsi Pribumi Drilling Company (MEDCO).

Salah satu batu loncatannya yakni mendapatkan pengeboran Tesoro di Kalimantan Timur pada 1992. Berlanjut dengan IPO pada Selasa 6 Desember 1994. Akuisisi Stanvac Indonesia dilakukan pada 1995, berlanjut dengan penemuan tambang minyak besar di Kaji dan Semoga, Blok Rimau Sumatera Selatan pada 1996.

Melanjutkan pengembangan bisnis hilir pada 1997 dan menambah pengelolaan di blok Senoro-Toili opada 2000 dan mendapatkan 25 Blok Tuban pada 2002.

Gong berikutnya bagi Medco adalah Go International pada 2004 dengan pengelolaan tambang minyak di luar negeri. Sejumlah eksplorasi migas luar negeri Medco diantaranya, Libya: Area 47 (eksplorasi), Oman: Lapangan Karim (Service), Blok 56 (eksplorasi), Yamen: Blok 9 Malik (produksi).

Selanjutnya, Tunisia : Adam & Bir Ben Tartar (produksi), 6 blok eksplorasi; Thailand: Bualuang (Offshore) & Sinphuhorm (Onshore) - Ophir Energy; Vietnam: Lapangan Chim Sáo & Dua - Ophir Energy; dan Tanzania: Blok 1 & 4 - Mafia Deep Basin - Ophir Energy.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, sampai dengan kuartal III/2021, emiten bersandi saham MEDC ini mencatatkan Ebitda sebesar US$508 juta atau naik 25 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Adapun, pada kuartal III/2021 sendiri, MEDC mencatatkan Ebitda sebesar US$190 juta, naik dari kuartal kedua karena harga dan permintaan yang kembali pulih pasca-pembatasan sosial (PPKM).

Selanjutnya, MEDC mencetak laba bersih sebesar US$56 juta, dari tiga lini usaha. Dari segmen Minyak dan Gas menyumbang laba US$140 juta, Ketenagalistrikan US$21 juta, dan Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) US$48 juta.

Kemudian, selama sembilan bulan berjalan tahun ini, MEDC menyerap belanja modal sebesar US$53 juta. Masih jauh dari target capex tahun ini sebesar US$150 juta untuk segmen minyak dan gas, dan US$65 juta untuk ketenagalistrikan.

Dari sektor minyak dan gas, belanja modal MEDC selama sembilan bulan tahun ini terserap sebesar US$31 juta digunakan untuk pengembangan beberapa proyek pengembangan migas di South Natuna Sea Block B PSC.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper