Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja Emiten Tak Memuaskan, Wall Street Gagal Bertahan di Zona Hijau

Ketiga indeks utama bursa saham AS ditutup melemah setelah Microsoft Inc. melaporkan perlambatan pertumbuhan pendapatan bisnis komputasi awannya
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 Januari 2022  |  05:34 WIB
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat. - Bloomberg
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat tak mampu mempertahankan rebound-nya dan berakhir melemah pada perdagangan Selasa (25/1/2022).

Pelemahan terjadi di tengah penantian investor terhadap hasil rapat The Fed pekan ini serta kekhawatiran atas ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,19 persen ke 34.297,73, sedangkan indeks S&P 500 melemah 1,22 persen ke 4.356,45 dan Nasdaq Composite turun 2,28 persen ke 13.539,29.

Indeks S&P 500 ditutup pada level terendah sejak Oktober 2021, dengan saham teknologi menjadi penekan utama. Indeks tersebut sempat kembali ke zona hijau pelaku pasar kembali membeli saham, namun gagal mempertahankan penguatannya.

Pada akhir perdagangan, ETF yang melacak indeks Nasdaq 100 jatuh lebih dari 1,5 persen setelah Microsoft Corp melaporkan perlambatan pertumbuhan pendapatan bisnis komputasi awannya. Saham Microsoft pun ditutup melemah 2,66 persen.

Tim analis Goldman Sachs Group Inc. mengatakan ada peningkatan risiko guncangan pertumbuhan terhadap ekuitas.

Menjelang keputusan Fed hari Rabu yang diperkirakan akan mengarah pada kenaikan suku bunga pada bulan Maret, mereka memperingatkan bahwa pengetatan moneter yang tajam untuk menjinakkan inflasi pada akhirnya dapat berdampak pada kegiatan ekonomi, dan menekan pasar saham.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional memangkas outlook pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun 2022, mengutip prospek yang lebih lemah untuk AS dan China bersama dengan inflasi yang tetap tinggi.

“Volatilitas kembali. Ada perubahan besar dalam hal kebijakan Fed. Investor saham terus terang tertinggal dalam mengantisipasi apa yang akan datang, jadi ada banyak hal yang harus dilakukan," ungkap kepala strategi ekuitas AS di RBC Capital Markets Lori Calvasina, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (26/1/2022).

Di bidang geopolitik, Wakil Menteri Keuangan Wally Adeyemo mengatakan AS dan sekutuna di Eropa menyiapkan sanksi ekonomi jika pasukan Rusia menyerang Ukraina. Seorang juru bicara Kremlin memperingatkan bahwa langkah Gedung Putih untuk menempatkan sebanyak 8.500 tentara yang siaga jika ketegangan memburuk.

Sementara itu, pejabat tinggi pemerintahan Biden mengatakan telah menyiapkan bala bantuan untuk pasukan Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO) di Eropa Timur dan kemungkinan sanksi terhadap Rusia.

Di antara berita emiten, International Business Machines Corp. melaporkan pendapatan yang melampaui perkiraan, didukung oleh permintaan yang kuat di unit perangkat lunak.

Sementara itu, American Express Co. menaikkan proyeksi pendapatan dan laba untuk tahun 2022 setelah mencatat lonjakan dalam bisnis kartu kredit. Raksasa perawatan kesehatan Johnson & Johnson memproyeksikan pendapatan dan penjualan 2022 di atas ekspektasi Wall Street.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top