Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

The Fed Hawkish dan Omicron Masuk Indonesia, Saatnya Investor Go Defensive?

Belum lepas ketegangan dari pernyataan hawkish Federal Reserve, pelaku pasar makin dikejutkan dengan pengumuman kasus Omicron pertama di Indonesia.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 16 Desember 2021  |  16:18 WIB
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (29/6/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (29/6/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Sentimen negatif dari dalam maupun luar negeri menekukkan lutut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini.

Belum lepas ketegangan dari pernyataan hawkish Bank Sentral AS (Federal Reserve), pelaku pasar makin dikejutkan dengan pengumuman kasus Omicron pertama di Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup turun 0,47 persen menjadi 6.594,79 pada akhir perdagangan Kamis (16/12/2021). IHSG mulai mundur ke zona merah pada akhir perdagangan sesi I hari ini, setelah sempat menyentuh level tertinggi 6.661,94 saat awal perdagangan.

Managing Director Head of Equity Capital Markets Samuel International Harry Su mengingatkan investor perlu bersikap defensif dalam waktu dekat menyusul pernyataan hawkish dari The Fed.

“Kita harus defensif, walaupun pasar hingga di suatu titik sudah memperhitungkan pernyataan hawkish The Fed. Kalau begitu, waktu The Fed menaikkan suku bunga akan menjadi variabel penting,” kata Harry dalam catatan yang diterima Bisnis, Kamis (16/12/2021).

Dengan kondisi saat ini, Harry menyarankan investor untuk melakukan aksi jual saat momentum window dressing akhir tahun dan January Effect awal tahun. Dia menyebutkan posisi beli dapat dilakukan ketika pasar kembali tertekan.

Adapun, beberapa sektor yang dinilai bakal terpengaruh oleh kebijakan The Fed adalah sektor yang sensitif dengan pergerakan suku bunga seperti perbankan, properti, serta barang konsumen seperti peritel dan otomotif.

Selain itu, investor juga harus mencermati saham-saham dari perusahaan yang memiliki tingkat utang tinggi. Tak boleh dilupakan pula, perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS juga dinilai rentan pada masa tapering karena potensi penguatan dolar AS.

“Saham siklikal seperti komoditas juga akan tertekan karena harga turun saat dolar menguat. Saham teknologi yang membutuhkan pendanaan juga tidak akan perform saat likuiditas mengetat,” kata Harry.

Adapun, rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dari The Fed yang berakhir pada Rabu (16/12/2021) menghasilkan keputusan bahwa Bank Sentral AS akan mengakhiri pembelian obligasi era pandemi pada Maret 2022. Setelah itu, bank sentral akan memulai kenaikan suku bunga hingga 0,75 bps pada 2022.

Keputusan The Fed untuk melakukan pengetatan ditengarai inflasi di Negeri Paman Sam yang kian memanas. The Fed memperkirakan inflasi akan mencapai 2,6 persen pada 2022 atau lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya 2,2 persen.

Belum hilang kekhawatiran mengenai tapering dari pernyataan hawkish The Fed tersebut, pelaku pasar dikejutkan dengan pengumuman kasus virus Covid-19 varian Omicron pertama di Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa salah satu dari tiga pekerja kebersihan di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta positif Omicron setelah dilakukan Genome Sequencing. 

“Kemenkes tadi malam mendeteksi ada pasien N terkonfirmasi Omicron per 15 Desember 2021,” kata Menkes melalui konferensi pers, Kamis (16/12/2021).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG investor pasar saham the fed omicron
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top