Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelang Tutup Tahun, Archi Indonesia (ARCI) Masih Kaji Capex Tahun Depan

Rencana pengembangan koridor barat dan pembangunan fasilitas pemurnian akan mempengaruhi kebijakan belanja modal (capex) perseroan pada 2022.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 27 November 2021  |  14:19 WIB
Tambang Emas Toka Tindung merupakan salah satu tambang emas terbesar yang memiliki 2 kontrak karya yang dimiliki oleh anak usaha Archi Indonesia - Dok.Perusahaan.
Tambang Emas Toka Tindung merupakan salah satu tambang emas terbesar yang memiliki 2 kontrak karya yang dimiliki oleh anak usaha Archi Indonesia - Dok.Perusahaan.

Bisnis.com, JAKARTA – Memasuki akhir tahun kalender, emiten tambang emas PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) masih belum menentukan target belanja modal tahun depan.

Perseroan menjelaskan bahwa saat ini rencana belanja modal alias capital expenditure (capex) masih belum bisa ditetapkan karena banyaknya aspek pertimbangan bisnis.

“Saat ini kami sedang melakukan finalisasi untuk bujet tahun depan. Dan sebenarnya, ini bukan cuma untuk tahun depan, tetapi juga rencana bisnis kami selama masa kontrak,” kata Wakil Direktur Utama ARCI Rudy Suhendra di Manado, Jumat (26/11).

Beberapa aspek yang tengah masuk pertimbangan, misalnya, adalah kebutuhan untuk pengembangan koridor barat wilayah konsesi perseroan.

“Potensi koridor barat menurut kami cukup besar, sehingga tentunya dibutuhkan capex-capex yang lumayan besar juga,” imbuh Rudy.

Melalui dua anak usahanya yakni PT Meares Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN), ARCI memegang kurang lebih 40.000 hektare wilayah konsesi. Per akhir 2020, wilayah tersebut diperkirakan memiliki 5,5 juta ons cadangan sumber daya mineral dan 3,9 juta ons cadangan bijih.

Dari potensi tersebut, per akhir 2020 baru sekitar 10 persen dari keseluruhan potensi yang telah dieksplorasi dan mulai ditambang. Hampir seluruhnya berada dilakukan di wilayah koridor timur.

Selain rencana tersebut, pertimbangan lain yang bakal mempengaruhi struktur capex perseroan tahun depan adalah rencana pendirian pabrik pemurnian emas.

Sejauh ini, perseroan masih melakukan aktivitas pemurnian lewat bantuan pihak ketiga, dengan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) sebagai pemegang kontrak utama.

Adapun, per akhir kuartal III/2021, secara tahun berjalan ARCI telah menyerap belanja modal pada kisaran US$103 juta. Perseroan memproyeksi belanja modal tambahan pada kuartal IV/2021 akan berkisar US$10 juta hingga US$15 juta lagi. Sehingga, belanja modal sepanjang 2021 diperkirakan menyentuh US$113 juta hingga US$118 juta.

Anggaran tersebut memang melebihi capex rata-rata perseroan periode sebelumnya yang berkisar US$70 juta hingga US$80 juta. Namun, pembengkakan ini bukannya tanpa alasan.

“Kenapa tahun ini kami punya capex tinggi, karena kami ada pembukaan pit baru yaitu Pit Alaskar. Dalam pembukaan pit baru ini pasti ada pengaruh striping ratio dan, misalnya, kebutuhan pembentukan waste dump,” kata Rudy.

Alaskar merupakan pit aktif keempat perseroan saat ini. Selain pit tersebut, ARCI lewat MSM dan TTN juga masih melakukan penambangan di tiga pit lama yakni Toka, Kopra dan Araren.

Mengacu data JORC Reserve Report per akhir 2020, kadar emas rata-rata yang dimiliki Pit Alaskar mencapai 3,0 gram per ton. Angka ini melebihi kadar emas rata-rata di pit lain seperti Toka (0,8 gram per ton), Kopra (0,8 gram per ton), hingga pit terbesar perseroan yakni Araren (2,0 gram per ton).

Perseroan sebelumnya juga sempat memiliki pit lain yakni Pajajaran, Talawaan dan Marawuwung, tetapi statusnya sudah tidak aktif ditambang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

capex Archi Indonesia
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top