Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Kembali Cetak Rekor saat Saham Amazon & Apple Merosot

Saham Apple turun lebih dari 3 persen pada akhir perdagangan setelah mengatakan masalah rantai pasokan menelan biaya US$6 miliar dalam penjualan pada kuartal terakhir.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 29 Oktober 2021  |  05:59 WIB
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021). - Bloomberg
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham di Amerika Serikat (AS) mengakhiri perdagangan Kamis (28/10/2021) waktu setempat dengan penguatan, di mana S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor penutupan.

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (29/10/2021), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,68 persen atau 239,79 poin ke 35.730,48, S&P 500 melesat 0,98 persen atau 44,74 poin ke 4.596,42, dan Nasdaq melejit 1,39 persen atau 212,28 poin ke 15.448,12.

Kenaikan Wall Street sebagaian berkat keuntungan dari saham-saham teknologi seperti Apple Inc. dan Amazon.com Inc. Namun, kedua saham tersebut turun tajam setelah bel penutupan perdagangan.

Amazon turun 4 persen dalam perdagangan yang diperpanjang setelah memperkirakan penjualan kuartalan di bawah ekspektasi Wall Street. Saham Apple turun lebih dari 3 persen pada akhir perdagangan setelah mengatakan masalah rantai pasokan menelan biaya US$6 miliar dalam penjualan pada kuartal terakhir dan dampaknya akan lebih buruk lagi pada kuartal menjelang liburan akhir tahun.

Selama sesi reguler, saham teknologi kelas berat termasuk Tesla Inc ditutup naik 3,8 persen, dan Apple, yang ditutup naik 2,5 persen, mendongkrak indeks Nasdaq dan S&P.

Untuk Wall Street, pernyataan Amazon dan Apple tampaknya membenarkan kekhawatiran bahwa meningkatnya gangguan rantai pasokan, biaya tenaga kerja dan kekurangan bahan berdampak pada perusahaan berbagai skala menuju musim liburan. Ini menciptakan tantangan bagi perusahaan untuk mengimbangi meningkatnya permintaan.

Sementara untuk Apple, Amazon, dan beberapa perusahaan teknologi lainnya, investor juga khawatir bahwa kunci dari perdagangan "tinggal di rumah" yang menguntungkan tahun lalu ini tidak akan dapat mempertahankan tingkat pertumbuhan yang tinggi menyusul lonjakan yang disebabkan oleh pandemi dalam bisnis mereka. Penjualan Amazon tumbuh 15 persem pada kuartal ketiga, melambat tajam dari 27 persen pada kuartal kedua.

Saya setuju, mereka dinilai terlalu tinggi. Tapi ingat penilaian adalah suatu kondisi, bukan katalis. Dan katalis yang saya pikir untuk teknologi adalah konsistensi baik di garis atas maupun bawah.” Kata Rebecca Felton, ahli strategi pasar senior Riverfront Investment Group kepada Yahoo Finance Live.

Sementara itu, investor terus mencerna sejumlah hasil data ekonomi yang beragam, termasuk produk domestik bruto kuartal ketiga yang lebih lemah dari perkiraan. Laporan tersebut, meskipun cakupannya komprehensif, masih menawarkan pandangan ke belakang tentang keadaan ekonomi. Beberapa pakar melihat kegiatan ekonomi sudah mulai meningkat, membantu mendukung kinerja perusahaan ke bulan-bulan terakhir tahun ini dan mendorong pasar saham.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street dow jones nasdaq

Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top