Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Data Penjualan Ritel AS Positif, Wall Street Ikut Terkerek

Ketiga bursa saham utama AS menguat setelah kenaikan data penjualan ritel di atas proyeksi analis.
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021)./Bloomberg
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021)./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat menguat pada awal perdagangan Jumat (15/10/2021) menyusul kenaikan data penjualan ritel AS bulan September.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,99 persen ke level 35.259,70, sedangkan indeks S&P 500 menguat 0,68 persen ke 4.468,39 dan Nasdaq Composite menguat 0,26 persen ke 14.861,96.

Data Departemen Perdagangan mencatat antka penjualan ritel secara keseluruhan meningkat 0,7 persen pada bulan September menyusul revisi naik 0,9 persen pada bulan Agustus. Data penjualan ritel di luar penjualan mobil meningkat 0,8 persen di bulan September.

Datga tersebut jauh di atas perkiraan median dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom yang memperkirakan penurunan 0,2 persen dalam keseluruhan penjualan dan kenaikan 0,5 persen tidak termasuk mobil.

Indeks S&P 500 memperpanjang kenaikan mingguannya, dipimpin oleh perusahaan yang kemungkinan besar akan mendapat manfaat dari rebound pertumbuhan. Indeks emiten berkapitalisasi kecil Russell 2000 menguat, sementara saham teknologi tertekan.

Saham Goldman Sachs Group Inc. melonjak setelah membukukan kenaikan dalam bisnis perdagangannya, melengkapi kinerja bank-bank besar yang cemerlang. Produsen aluminium terbesar AS Alcoa Corp., menguat setelah mencatat kinerja positif, melaksanakan pembayaran dividen pertamanya sejak 2016 serta melakukan buyback saham senilai US$500 juta.

"Perekonomian didukung oleh neraca konsumen yang kuat, investasi bisnis yang pulih, dan pasar tenaga kerja yang sehat," kata analis global J.P. Morgan Asset Management Hugh Gimber, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (15/10/2021).

Harga sejumlah logam utama terus mengalami lonjakan yang sangat tinggi karena krisis energi memaksa lebih banyak pengurangan produksi, menumpuk tekanan pada produsen dan memicu kekhawatiran tentang inflasi.

Harga seng melonjak ke level tertinggi 14 tahun. Aluminium telah melonjak sekitar 60 persen tahun ini. Tembaga melanjutkan kenaikan melampaui US$10.000 per ton.

Sementara itu, harga minyak Brent bergerak di dekat $85 per barel, level terbaru dalam krisis energi global yang telah membuat harga melonjak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper