Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Harga Minyak Kembali Menghangat, Brent ke Level US$81,95

Kebangkitan harga minyak ini didorong oleh perkiraan pasar bahwa Amerika Serikat tidak akan merilis cadangan minyak mentah daruratnya atau melarang ekspor untuk mengurangi pasokan yang ketat.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 Oktober 2021  |  06:39 WIB
Harga Minyak Kembali Menghangat, Brent ke Level US$81,95
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah pada perdagangan Kamis (7/10/2021) kembali naik setelah merosot dari rekor tertinggi multi-tahun pada hari sebelumnya.

Kebangkitan harga minyak ini didorong oleh perkiraan pasar bahwa Amerika Serikat tidak akan merilis cadangan minyak mentah daruratnya atau melarang ekspor untuk mengurangi pasokan yang ketat.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember bangkit 87 sen atau 1,1 persen, menjadi US$81,95 per barel, setelah anjlok 1,8 persen sehari sebelumnya.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November AS bertambah 87 sen atau 1,1 persen, menjadi ditutup pada US$78,30 per barel. WTI juga merosot 1,9 persen pada sesi sebelumnya.

Kedua kontrak acuan sempat terpuruk sekitar 2 dolar AS per barel pada pagi hari.

Dilansir Antara pada Jumat (8/10/2021), Departemen Energi AS mengatakan semua hal selalu tersedia untuk mengatasi kondisi pasokan energi yang ketat di pasar.

Departemen membuat komentar di tengah pertanyaan tentang apakah Pemerintahan Presiden Joe Biden sedang mempertimbangkan memanfaatkan Cadangan Minyak Strategis (SPR) atau mengejar larangan ekspor minyak untuk menurunkan biaya minyak mentah.

Sementara itu penasihat keamanan nasional Biden mendesak para pemasok energi untuk meningkatkan arus pasokan guna memenuhi permintaan, dengan mengatakan bahwa AS khawatir dengan kegagalan mereka untuk melakukannya.

Pemerintah AS terkadang menggunakan cadangan strategisnya, biasanya setelah badai atau gangguan pasokan lainnya. Namun, sejak mengakhiri larangan 40 tahun ekspor minyak mentah pada 2015, negara ini telah menjadi pengekspor yang signifikan dan belum memulai pemotongan ekspor.

Awal pekan ini Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) sepakat untuk menaikkan produksi hanya secara bertahap, mengirimkan harga minyak mentah ke level tertinggi multi-tahun.

Pasar minyak telah terus meningkat karena ketatnya pasokan di seluruh dunia, setelah permintaan pulih lebih cepat dari yang diperkirakan dari pandemi Covid-19 di pasar impor besar, seperti China.

"Pasar minyak terlihat lebih ketat dalam jangka pendek, yang menunjukkan bahwa harga akan tetap didukung dengan baik hingga akhir tahun," kata Analis ING Warren Patterson.

Produsen utama dan Badan Energi Internasional percaya bahwa permintaan minyak mentah dapat meningkat dari 150.000 menjadi 500.000 barel per hari dalam beberapa bulan mendatang, karena pengguna gas alam beralih ke minyak akibat harga gas yang tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak minyak mentah harga minyak brent harga minyak mentah wti

Sumber : Antara

Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top