Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Incar Level 6.153, Rekomendasi Saham BBRI, HMSP, AALI Cs

IHSG berpotensi menguat dengan support resistance 6098-6153
Karyawan beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/5/2020). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawan beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/5/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan kembali menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (15/9/2021). Sejumlah saham menarik diperhatikan.

IHSG pada penutupan kemarin naik 40,94 poin atau 0,67 persen ke level 6.129,09, dengan cenderung bergerak optimis sepanjang sesi perdagangan. Indeks sektor energy (+2.16%), Infrastruktur (+2.09%) dan Property (+1.82%) naik lebih optimis dan saham TLKM, DCII, ASII, EXCL dan HMSP menopang penguatan IHSG.

Investor melihat angka kasus Covid-19 yang melambat dan penguatan besar pada sebagian bursa ekuitas global pasca rentetan pelemahan yang terjadi di Wallstreet sejak pekan lalu.

Head of Research Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi Taulat menuturkan secara teknikal optimisme penguatan IHSG terlihat dengan konfirmasi break out Moving Average 20 hari dan 50 hari.

"Momentum pergerakan bullish pada indikator stochastic dan RSI mendorong laju pergerakan kembali pada trend positif. Arah pergerakan selanjutnya IHSG akan menguji resistance fractal 6150," jelasnya, Rabu (15/9/2021).

Dengan demikian, secara teknikal IHSG berpotensi menguat dengan support resistance 6098-6153. Saham-saham yang masih dapat dicermati secara teknikal di antaranya; AALI, ACES, ACST, AGII, BBRI, BSDE, ESSA, HMSP, LSIP, SMCB, TBIG, WEGE.

Di sisi lain, bursa saham Asia berpotensi tertekan pada perdagangan hari rabu setelah mayoritas indeks saham di Wallstreet tergelincir semalam ditengah kekhawatiran pertumbuhan ekonomi yang melambat dari laporan inflasi AS di bawah ekspektasi.

Inflasi AS yang rilis dibawah ekspektasi pada bulan Agustus menambah ketidakpastian langkah The Fed dalam pemangkasan stimulus dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil atau justru menjadi penghambat.

Dari Asia investor sedang menunggu data ekonomi yang kemungkinan akan menunjukkan tekanan akibat wabah Covid-19 dan investor juga memantau pembatasan peraturan Beijing dan kesengsaraan utang pengembang China Evergrande Group yang sebelumnnya menjadi faktor utama pelemahan indeks acuan di sana.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper