Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PREMIUM WRAP UP: BBCA Siapkan Senjata Baru, Unilever Putar Otak, & Fitch Beri Wanti-wanti

Pandemi Covid-19 tak meggentarkan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) untuk berinovasi. Sementara itu, Unilever Plc. dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) harus menghadapi tantangan dari sektor komoditas.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 23 Juli 2021  |  19:00 WIB
Nasabah bertransaksi di ATM BCA - Istimewa
Nasabah bertransaksi di ATM BCA - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Sektor perbankan baru-baru ini ramai melakukan langkah inovasi untuk menghadapi persaingan tren bank digital. 

Misalnya saja, bank besar PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) akhirnya resmi memasuki arena bank digital dengan pendirian anak usahanya yaitu PT Bank Digital BCA atau dengan nama lain Blu. 

Adapun pengembangan ekosistem digital tersebut dilakukan lewat kerjasama dengan sesama anak usaha Grup Djarum, yakni Blibli.  Lewat kemitraan tersebut, nasabah dapat membuka akun rekening bank digital hingga melakukan transaksi pembayaraan di e-commerce tersebut.

 

  1. Blu, Senjata Bank Central Asia (BBCA) dan Grup Djarum di Arena Pertarungan Bank Digital

blu

Direktur Utama BCA Digital Lanny Budiati mengatakan inovasi BCA tersebut adalah sebagai langkah perseroan untuk fokus dalam memuaskan nasabah. Hal ini dilakukan melalui pengembangan pelayanan, fitur, dan produk yang disajikan.

"Kami percaya bahwa inovasi perbankan digital tidak berhenti pada kebutuhan finansial saja. Seiring dengan makin eratnya fungsi bank digital dalam kehidupan sehari-hari. Kami ingin punya andil untuk menghadirkan kemudahan dunia digital yang sesungguhnya," katanya. 

Berita selengkapnya, klik di sini.

 

  1. Unilever Plc. Putar Otak Siasati Bahan Baku, Bagaimana dengan UNVR?

unilever

Unilever Plc, ritel raksasa global menyebut bahwa biaya untuk bahan baku yang digunakan untuk memproduksi sampo, detergen dan es krim mengalami lonjakan selama lebih dari satu dekade terakhir.

Hal tersebut memaksa  perusahaan untuk merevisi turunnya target profitabilitas tahun ini.  Melansir Bloomberg, margin laba perusahaan menyusut menjadi 18,8 persen pada semester I/2021 dari 19,8 persen pada periode yang sama tahun lalu. 

Unilever Plc. pun terpaksa menaikan harga sejumlah produk beberapa negara melingkupi Brasil, India, dan Amerika Serikat. Namun, perusahaan masih berhati-hati menaikan harga produk di pasar Prancis dan Jerman.

Unilever Indonesia juga mengalami sejumlah tantangan. Presiden Direktur Unilever Indonesia (UNVR) Ira Noviarti mengatakan pertumbuhan pasar FMCG belum sepenuhnya pulih. Meskipun pada paruh pertama tahun ini UNVR telah mencatkan laba Rp3 triliun.

Berita selengkapnya, klik di sini.

 

  1. Babak Baru Perjalanan Konglomerat Jerry Ng (ARTO) & Grup Lippo (MPPA) Bersama Gojek

gojek

Gojek berjalan cepat merealisasikan kerjasama dengan emiten afiliasi konglomerat Jerry Ng, PT Bank Jago Tbk. (ARTO), serta Grup Lippo melalui PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA).

PT Dompet Anak Bangsa, pengembang layanan keuangan Gopay saat ini mengempit 21,40 persen saham PT Bank Jago.

Kabarnya, masuknya Gojek ke dalam struktur pemegang saham ARTO menjadi salah satu topik panas pada 2020.  Sejak Juni 2020, terjadi beberapa kali transaksi saham jumbo di pasar negosiasi yang melibatkan saham perbankan tersebut.

Berita selengkapnya, klik di sini.

 

  1. Membandingkan Rapor dan Ancang-Ancang Perbankan Daerah (BJBR, BJTM, BEKS)

bank daerah

Pemberlakukan PPKM Darurat tentunya menjadi sentimen negatif bagi sejumlah bidang usaha, tidak terkeculi bank daerah.

Dari tiga bank pembangunan daerah yang melantai di bursa, BJBR memiliki kinerja paling solid sepanjang 2020. Namun belum kunjungnya pulihnya ekonomi membuat manajemen ragu akan capaian pertumbuhan kinerja.

Berita selengkapnya, klik di sini.

 

  1. Wanti-wanti Fitch Ratings untuk Pasar Modal RI

fitch

Lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings memproyeksikan penyebaran varian Covid-19 yang tidak terkendali akan mengancam prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kondisi itu berpotensi mengurangi keuntungan yang dicapai sektor korporasi non-keuangan pada paruh pertama tahun ini.

Belum lagi, vaksinasi yang masih rendah dan juga kebijakan pembatasan sosial masyarakat yang berkepanjangan hingga 25 Juli 2021 semakin memberatkan pertumbuhan tersebut.

Berita selengkapnya, klik di sini.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bca unilever fitch ratings bpd Gojek bank jago
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top