Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penguatan Dolar AS Bikin Harga Emas Tergelincir

Peningkatan permintaan fisik emas, terutama dari konsumen utama China dan pembelian oleh bank-bank sentral dapat membatasi penurunan logam mulia.
Emas batangan cetakan PT Aneka Tambang Tbk. Harga emas 24 karat Antam dalam sepekan terakhir mengalami lonjakan hingga menyentuh hampir Rp1 juta per gram./logammulia.com
Emas batangan cetakan PT Aneka Tambang Tbk. Harga emas 24 karat Antam dalam sepekan terakhir mengalami lonjakan hingga menyentuh hampir Rp1 juta per gram./logammulia.com

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas tergelincir pada akhir perdagangan Jumat waktu Amerika Serikat (16/7/2021), menghentikan keuntungan selama tiga hari beruntun karena kurs dolar AS yang menguat bisa mendorong harga logam mundur lebih jauh dari level tertinggi satu bulan yang dicapai pada sesi sebelumnya.

Mengutip Antara, Sabtu (17/7/2021), kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange, jatuh US$14 atau 0,77 persen, menjadi ditutup pada US$1.815 per ounce. Untuk minggu ini, emas naik tipis sekitar 0,2 persen.

Sehari sebelumnya, Kamis (15/7/2021), emas berjangka menguat US$4,0 atau 0,22 persen menjadi US$1.829 per ounce, setelah melonjak US$15,1 atau 0,83 persen menjadi US$1.825 pada Rabu (14/7/2021), dan terangkat US$4,0 atau 0,22 persen menjadi US$1.809,90 pada Selasa (13/7/2021).

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya berada di jalur menuju kenaikan mingguan yang kuat, sehingga mengurangi daya tarik emas bagi pemegang mata uang lainnya.

Ahli strategi komoditas TD Securities, Daniel Ghali mengatakan ketidakmampuan emas untuk mendapatkan keuntungan secara substansial dari imbal hasil riil AS yang lebih lemah menunjukkan bahwa emas tetap rentan terhadap penurunan lebih lanjut.

“Meskipun valuasi emas lebih menarik secara relatif terhadap Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) alasan emas diperdagangkan dengan harga diskon adalah karena tidak membawa keuntungan yang sama.”

Namun, Ghali mengatakan bahwa peningkatan permintaan fisik emas, terutama dari konsumen utama China, dan pembelian oleh bank-bank sentral dapat membatasi penurunan logam mulia.

Awal pekan ini, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menegaskan kembali bahwa bank sentral AS akan tetap akomodatif, mendorong emas ke level tertinggi satu bulan pada Kamis.

Ketidakpastian di sekitar potensi lonjakan kasus varian Delta virus corona di Amerika Serikat dapat memaksa The Fed untuk tetap akomodatif lebih lama, kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.

Emas juga berada di bawah tekanan karena Departemen Perdagangan AS melaporkan pada Jumat bahwa penjualan ritel AS naik 0,6 persen pada Juni, bertentangan dengan ekspektasi perdagangan untuk penurunan 0,4 persen.

Tetapi, angka awal indeks sentimen konsumen dari Universitas Michigan turun menjadi 80,8 pada Juli, lebih rendah dari angka akhir yang direvisi 85,5 pada Juni dan memberikan beberapa dukungan terhadap emas.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September turun 59,9 sen atau 2,27 persen, menjadi ditutup pada US$25,795 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober turun US$29,2 atau 2,57 persen, menjadi ditutup pada US$1.108,5 per ounce.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper