Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Picu Fluktuasi Harga Bijih Besi

Bijih besi sebagian besar diterpa oleh kebingungan tentang bagaimana kebijakan pemerintah China yang akan mempengaruhi permintaan dari pabrik baja.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 18 Juni 2021  |  08:11 WIB
Seorang pekerja sedang meratakan bijih besi di atas kereta cargo di stasiun kereta Chitradurga, di Karnataka, India (9/11/2012)/Reuters/Danish Siddiqui
Seorang pekerja sedang meratakan bijih besi di atas kereta cargo di stasiun kereta Chitradurga, di Karnataka, India (9/11/2012)/Reuters/Danish Siddiqui

Bisnis.com, JAKARTA - Bijih besi, salah satu komoditas terpanas dunia, kini bergerak paling fluktuatif akibat kebijakan pasar China

Dalam serangkaian ayunan liar, bijih besi yang menjadi bahan bakar industri baja China, mencetak ke rekor tertinggi. Namun, bijih besi runtuh ke pasar yang bearish dan kemudian bangkit kembali ke pasar bullish dalam waktu sekitar satu bulan.

Perputarannya dalam 30 hari terakhir menandai mineral tersebut sebagai yang komoditas paling fluktuatif dari dua lusin komoditas yang paling banyak diperdagangkan di seluruh dunia.

Fluktuasi bijih besi sebagian besar diterpa oleh kebingungan tentang bagaimana kebijakan pemerintah China yang akan mempengaruhi permintaan dari pabrik baja.

China ingin memangkas produksi baja, namun tetap mengendalikan harga, dan mengurangi investasi tetapi mempertahankan lapangan kerja, kata analis di Kallanish Commodities Ltd. Tomas Gutierrez.

“Ketika kebijakan bergeser untuk menjaga keseimbangan yang diinginkan antara tujuan-tujuan ini, prospek baja akan membaik atau memburuk,” katanya.

China telah menghidupkan kembali ekonomi yang melemah selama pandemi dengan beralih ke stimulus fiskal dan pelonggaran moneter.

Hal ini berarti menghasilkan baja dalam jumlah besar untuk memberi makan ledakan properti dan infrastruktur. Akibatnya, harga bijih besi naik lebih dari dua kali lipat selama setahun terakhir.

Sekarang, tekanan untuk menahan tekanan inflasi yang telah tercipta, yang berarti pengetatan kredit dan moderasi dalam pengeluaran untuk konstruksi.

"Tidak ada banyak ruang bagi bijih besi untuk naik lagi," kata seorang pedagang berjangka yang berbasis di Singapura dengan pengalaman lima tahun di pasar yang dikutip Bloomberg.

China telah memulai pengetatan kredit dan itu menandakan bahwa harga komoditas akan turun, papar pedagang yang menolak disebutkan namanya karena kebijakan perusahaan.

Pada saat yang sama, pabrik baja China terus memecahkan rekor. Produksi mencapai titik tertinggi sepanjang masa di bulan Mei dan telah mencapai 473 juta ton sepanjang tahun hingga saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china bijih besi

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top