Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dolar AS Menguat setelah Fed Pastikan Kenaikan Suku Bunga di Akhir 2023

Dolar AS, yang merosot sepanjang sebagian besar tahun 2020, berhasil rebound awal tahun ini. Namun, reli itu tampaknya kehabisan tenaga pada Mei karena investor tetap yakin bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga rendah lebih lama saat guna mendukung ekonomi. 
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (25/11/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (25/11/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, - Dolar Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi hampir enam minggu pada akhir perdagangan Kamis (17/6/2021) setelah Federal Reserve memajukan proyeksi untuk kenaikan suku bunga pertama pascapandemi ke tahun 2023.

Keputusan ini dilandasi oleh membaiknya pandemi dan menguatnya perekonomian AS. Indeks dolar, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,63 persen pada 91,103, level tertinggi sejak 6 Mei.

Mayoritas dari 11 pejabat Fed memperkirakan setidaknya dua seperempat poin kenaikan suku bunga untuk tahun 2023, bahkan ketika para pejabat dalam pernyataan mereka berjanji untuk menjaga kebijakan tetap mendukung untuk saat ini guna mendorong pemulihan lapangan pekerjaan yang sedang berlangsung.

Proyeksi menunjukkan prospek lonjakan inflasi tahun ini, meskipun kenaikan harga-harga masih digambarkan sebagai sementara. Pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan diperkirakan akan mencapai 7,0 persen.

"Hal yang menarik adalah bahwa The Fed telah melampaui sekadar mengakui bahwa inflasi meningkat dan bahwa ekonomi AS memiliki banyak momentum, dan pada dasarnya telah bergeser ke sikap yang jauh lebih hawkish dalam rangkaian proyeksi-proyeksi ini," kata Karl Schamotta. kepala strategi pasar di Cambridge Global Payments di Toronto.

Terhadap yen Jepang, dolar menguat 0,39 persen menjadi 110,49 yen, tertinggi sejak 6 April.

Dolar AS, yang merosot sepanjang sebagian besar tahun 2020, berhasil rebound awal tahun ini. Namun, reli itu tampaknya kehabisan tenaga pada Mei karena investor tetap yakin bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga rendah lebih lama saat guna mendukung ekonomi. 

Sementara bahasa baru The Fed tidak berarti perubahan dalam kebijakan sudah dekat, itu memberikan lebih banyak dukungan untuk greenback, kata para analis.

"Saya pikir kita kembali berbicara tentang reli ringan dalam dolar AS dan data menjadi sangat penting selama periode musim panas sebelum pertemuan Jackson Hole dan pertemuan September," kata Simon Harvey, Analis Pasar Senior Valas di Monex Monex Europe.

Mata uang yang sensitif terhadap risiko mencatat pembalikan tajam setelah pengumuman Fed, dengan dolar Selandia Baru turun 0,98 persen pada US$0,7049 dan dolar Australia - yang dipandang sebagai proksi untuk selera risiko - naik 0,95 persen pada US$0,7612.

Sterling, yang telah menguat terhadap dolar AS pada Rabu (16/6/2021) setelah data menunjukkan inflasi Inggris secara tak terduga melonjak di atas target bank sentral Inggris (BoE) 2,0 persen pada Mei, menyerahkan keuntungan tersebut menjadi diperdagangkan turun 0,49 persen.

Sementara itu, reli Bitcoin baru-baru ini tampaknya kehabisan tenaga, karena mata uang kripto terbesar di dunia itu turun 4,34 persen menjadi US$38,430,03.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper